Istana Khayalan

No: 007
Judul Asli: Pallace of Illusion
Penulis: Chitra Banerjee Divakaruni
Alih Bahasa: Gita Yuliani K
Desain Sampul: Satya Utama Jadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama, Cet. I, Juli 2009
Tebal: 496 halaman ; 13,5 x 20 cm
Tgl beli: 17 Agustus 2011, FJB Kaskus

Sebagai orang yg tumbuh dan besar di Jawa, otomatis saya akrab dengan cerita wayang baik itu komik, pagelaran wayang orang & wayang kulit. Khusus komik atau cerita bergambar… R.A. Kosasihlah jagonya (saat itu belum ada komik elex atopun m&c) kalau punya komiknya lengkap wuah… rasanya seperti punya harta karun 1 peti saja.

Sebagai seorang anak kecil yg saat itu nalarnya masih cekak, yg paling dinikmati adalah memperhatikan gambarnya secara detil untuk urusan alur cerita bisa jadi nomer sekian apalagi memaknai pesan yg tersirat dalam cerita tersebut. Habislah saya terkagum-kagum melihat gambar para ksatria berwajah tampan, sakti dan gagah berani dan putri cantik jelita yg halus tutur katanya. Entah kenapa tokoh favorit saya saat itu adalah Anoman, kera putih dalam cerita Ramayana. Bahkan saya sempat memimpikan memiliki seekor Anoman sebagai binatang piaraan daripada ayam hitam berjambul yg bau itu.

Hingga terbentulah pemahaman dalam benak saya bahwa cerita wayang  =  R.A. Kosasih, titik… Jadi begitu saya membaca buku ini, Istana Khayalan karya Chitra Banerjee Divakaruni apa yg selama ini lekat dalam otak saya berbalik 180 derajat.

Dalam buku ini kita diajak melihat cerita wayang dari sudut pandang seorang perempuan. Dimulai dari kelahiran Drupadi yg tidak diharapkan dan bernuansa mistis. Drupadi lahir dari api pemujaan yg dibuat oleh ayahnya untuk mendapatkan seorang anak laki-laki yg bisa membalaskan dendam sang ayah.

Seperti kelahirannya yg aneh tingkah laku Drupadi, putri berkulit hitam legam inipun tidak seperti putri pada umumnya, selalu ingin tahu dan menuntut untuk diajarkan hal yg sama dengan kakaknya. Padahal sebagai seorang putri, Drupadi seharusnya belajar tentang keputrian, cara berhiasan dan memasak. Setelah dewasa Drupadi menikah dengan Pandawa. Tunggu sebentar, Pandawa… bukan Yudhistira. Poliandri dong? Kok bisa sih, ya bisalah…

Cerita terus berlanjut. Setiap ada kesusahan pasti ada kebahagaiaan yg menunggu begitupun sebaliknya. Kehidupan Pandawa pun tak bisa lepasa dari roda kehidupan, ada saatnya diatas tapi ada pula saatnya dibawah. Susah senang mereka jalani dengan sabar, hingga pada saatnya nanti harga diri dan kehormatan harus ditegakkan, meskipun dengan perang.

Melalui buku ini kita dibawa masuk kedalam jalinan pikiran Drupadi, yg seperti layaknya manusia biasa dipenuhi dengan dengan rasa cinta, perasaan iri, dengki dan nafsu duniawi lainnya yg berujung pada perang besar yg dipenuhi kecurangan dan politik kotor. Melalui Drupadilah saya jadi memaklumi idiom “Di balik pria yang hebat, ada wanita yang luar biasa.”

Sejujurnya saya kurang menyukai buku ini, karena sang penulis hanya mengambil sudut pandang dari satu titik saja yaitu Drupadi dan intrik yg  dibangunpun bermula dari Drupadi… Drupadi… dan Drupadi… Memang sih maunya buku ini demikian, tapi… ah sayang sekali rasanya. Buat saya tetap wayang  = R.A. Kosasih.

Advertisements

One thought on “Istana Khayalan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s