The Diary of Ma Yan: Buku Harian Seorang Gadis Pelajar Cina

The Diary of Ma Yan

Judul Asli: The Diary of Ma Yan: The Life of A Chinese Schoolgirl
Penulis: Ma Yan (Penulis), Pierre Haski (Editor & Pengantar)
Alih Bahasa: Wahyu Wijayanti & Ayi Y. Chandra
Desain Sampul: gBALLON
Penerbit: Q-Press, Cet. I, Agustus 2006
Tebal: 372 halaman, 11 x 18 cm
Tgl. Beli: Tahun 2009, di obral Lap. Brigif, Cimahi

Tulisan ini saya posting ulang dari tulisan saya yang sebelumnya untuk diikutsertakan dalam Annual Contest: 2011 End of Year Book Contest. Kenapa saya memilih tulisan ini? Karena tulisan ini yg paling memenuhi syarat menurut saya, antara lain:

  • Ada “huruf P” pada judul buku
  • Ada “warna merah” pada sampul buku

Dan yang paling utama, meskipun tidak ada kata “semangat” dalam judul buku ini… saya bisa merasakan betul “semangat” Ma Yan yang tidak pantang menyerah untuk terus bersekolah dan menggapai cita-citanya.

Catatankoe:
Sebetulnya yg pilih buku ini sih Mas Sidik, “buku opo to iki kok uelek temen” batin saya saat itu. Desain covernya ga menarik babar blas, jenis kertasnya huuuuu….. mengingatkanku pada lembaran novel stensilan yg diedarkan jaman sekolah dulu. Duh dilihat dari manapun buku ini ga ada bagus-bagusnya. Diary Ma Yan inipun sempat menumpuk dan berdebu di sudut rak buku saya. Entah ada angin apa kok ya kemarin saya masukin buku ini kedalam tas, dan saya baca-baca di sela-sela waktu istirahat kantor. Dan… wow selama ini saya underestimated banget sama buku ini. Jadi yuk kita bedah buku ini

Buku ini ditransformasikan dari buku harian seorang gadis kecil bernama Ma Yan. Sayang ada bagian yg hilang dari buku harian tersebut karena telah berubah menjadi asap. Yeah… menjadi asap karena Ma Dongji, ayah Ma Yan, mempunyai kebiasaan melinting rokok dari buku-buku anaknya yg sudah tidak terpakai dan lembaran buku harian Ma Yan adalah salah satu korbannya.

Ma Yan tinggal di desa terpencil di negri Cina. Setiap minggu Ma Yan dan saudara laki-lakinya harus menempuh jarak bermil-mil jauhnya dengan berjalan kaki menuju sekolah mereka dimana mereka tinggal dan bersekolah sepanjang minggu. Tidak terbayangkan betapa beratnya perjalanan mereka. Sebetulnya di Indonesia juga banyak sih… anak-anak dari keluarga yg kurang mampu, tinggal di pelosok tapi tetap memiliki semangat yg tinggi untuk belajar. Malah lebih ekstrim anak-anak kita saya rasa…

Saking miskinnya, acapkali Ma Yan hanya makan semangkuk nasi sehari, tanpa lauk ataupun sayur. Kadang-kadang ayah atau ibu Ma Yan memberikan sedikit uang lebih yg bisa dipergunakan untuk membeli sayuran di pasar atau untuk menumpang traktor pulang ke rumah pada akhir minggu. Alih-alih dibelikan sayur buat perbaikan gizi, Ma Yan lebih memilih membeli sebatang pulpen atau buku tulis.

Ma Yan termasuk anak yg pintar dan selalu mendapat rangking di kelasnya, tetapi… jika tidak menjadi juara pertama ia tidak akan merasa puas. Karena Bai Juhua, ibu Ma Yan, pasti akan memarahinya habis-habisan bahkan mencacinya dengan kata-kata yg membuat saya miris. Membaca hal ini membuat ingatan saya melayang ke beberapa tahun yg lalu, saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Waktu itu saya mendapatkan rangking 10 besar… yah 10, bukan 1, 2 ato 3… tapi saat itu Mama sangat bahagia dan bangga sekali dengan saya. Jeleknya hal ini membuat saya terlena dan semakin tahun rangking saya semakin melorot hehehe….

Meskipun demikian Bai Juhua memahami betul keinginan Ma Yan untuk terus bersekolah. Ia rela bekerja keras membanting tulang, menggarap ladang milik mereka sendiri yg tidak seberapa luas, memanen tanaman orang lain atau pergi bermil-mil jauhnya untuk memanen rumput facai, dengan harapan anak-anakanya bisa terus bersekolah dan memiliki kehidupan yg lebih baik darinya. Padahal kondisi Bai Juhua sedang tidak sehat dan sering merasakan sakit pada perutnya.

Ma Yan-pun sangat mencintai ibunya, meskipun sang ibu suka bersikap kasar. Hal ini terlihat jelas dari tulisan Ma Yan pada buku hariannya yg berisi ungkapan perasaannya yg campur aduk, silih berganti antara rasa cinta yg dalam, hormat dan perasaan marah atas ketidakadilan yg diterimanya.
Spontanitas Bai Juhua saat menyodorkan buku harian Ma Yan kepada Pierre Haski telah merubah segalanya.

Kutipan Favorit:
“Jika aku rajin belajar dan membuat kemajuan setiap hari, aku akan masuk ke universitas dan menjadi polisi wanita. Dan jika anak-anak itu yg melanggar huku, meski hanya sedikit, aku tidak akan segan-segan menghukum mereka” – p.72

“Di zaman sekarang, bahkan pengemis membutuhkan derajat” – p.82

Advertisements

2 thoughts on “The Diary of Ma Yan: Buku Harian Seorang Gadis Pelajar Cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s