Pangeran Kecil

No: 011
Judul Asli:  The Little Prince
Penulis:  Antoine de Saint-Exupery
Alih Bahasa:  Listiana Srisanti
Penerbit:  PT. Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Cet. ke-2; Oktober 2003
Ukuran:  112 hlm; 14 x 20 cm
Tgl beli:  Agt 2011, Kios buku bekas di Rempoa
Rating:  2/5

Awal cerita dimulai saat tokoh Aku masih kecil. Dia ingin menjadi seorang pelukis, lukisan pertamanya adalah seekor ular boa yg sedang memakan gajah. Tapi, saat gambar itu ditunjukkan kepada orang dewasa mereka mengira itu adalah gambar sebuah topi. Setelah dijelaskan oleh Aku bahwa ini adalah gambar ular Boa yg sedang makan gajah, orang-orang dewasa itu menyuruhnya berhenti bermain-main dan mulai belajar hal lainnya yg lebih serius.

Selanjutnya kisah beranjak saat Aku telah dewasa dan menjadi seorang pilot. Pada suatu hari Aku terpaksa mendarat darurat di gurun sahara karena mesin pesawatnya rusak. Disinilah awal pertemuannya dengan pangeran kecil dan cerita-ceritanya yg menakjubkan. Pangeran kecil memutuskan untuk melihat dunia, saat itu dia berada di dekat Asteroid 325, 326, 327, 328, 329, dan 330 maka kesanalah ia berkelana.

Di Asteroid 325, sang Pangeran bertemu seorang raja berjubah cerpelai ygmengklaim dirinya menguasai bintang-bintang dan menuntut untuk dihormati dan dituruti semua perintahnya.
Di Asteroid 326, sang Pangeran bertemu dengan orang yg sangat angkuh, yg merasa dirinya paling tampan, berpakaian paling baik, paling kaya dan paling pintar di planet itu.
Di Asteroid 327, sang Pangeran bertemu seorang pemabuk yg mabuk untuk menghilangkan rasa malu. Malu karena apa? Malu karena mabuk.
Di Asteroid 328, sang Pangeran bertemu pengusaha yg sibuk membukukan jumlah bintang di langit yg telah membuatnya kaya. Dan setelah memperoleh kekayaan apa yg dilakukanya? Membeli lebih banyak bintang.
Di Asteroid 329, sang Pangeran bertemu dengan penyulut lampu, yg bekerja memadamkan lampu pada pagi hari dan menyulutnya pada malam hari. Dulu saat rotasi planet masih berjalan normal, penyulut lampu masih punya jeda waktu untuk istirahat, tapi saat rotasi planet semakin cepat jeda waktunya makin pendek dan saat ini planet berotasi tiap 1 menit hingga sang penylut lampu tidak memiliki waktu untuk istirahat. Meskipun demikian ia tetap setia menjalankan tugasnya sebagai penyulut lampu.
Di Asteroid 330, sang Pangeran bertemu dengan seorang pembuat peta yg katanya mengetahui letak setiap kota, gunung, gurun, laut dan bintang yg ada. Tapi saat ditanya apakah planetnya punya gunung dan lautan ia tidak bisa menjawab, karena ia tidak pernah pergi dari mejanya ia membuat peta berdasarkan cerita para pengelana yg sangat ia andalkan dan percayai. Pada akhir pertemuan si pembuat peta menyarankan Pangerean untuk berkunjung ke Bumi.

Akhirnya, sang pangeran kecil pergi ke bumi dan pertama-tama mendarat di gurun. Di sana dia bertemu dengan seekor ular yg mengklaim mempunyai kekuatan untuk mengirim seseorang ke planet asalnya.
Lalu, pangeran bertemu dengan bunga gurun dan bertanya pernahkah bertemu manusia? Yg dijawab oleh bunga gurun bahwa ia pernah melihat manusia di karavan, tapi mereka sulit ditemukan karena tidak memilik akar dan mudah tertiup angin.
Pangeranpun memutuskan memanjat gunung tertinggi dan berteriak di puncaknya dan terkejut mendengar gema suaranya sendiri, ia pun berfikir manusia itu aneh karena selalu mengulangi apa yg telah ia katakan.
Setelah itu Pangeran sampai di kebun bunga mawar, ia terkejut dan kecewa karena selama ini ia mengira bunga mawar miliknya adalah spesial dan hanya satu-satunya. Perjalanan Pangeran terus berlanjut hingga akhirnya ia kembali bertemu Aku, Pangeran mengucapkan selamat tinggal karena sudah tiba waktunya bagi Pangeran untuk kembali ke tempat asalnya.

♥♥♥

Orang bilang buku ini “two thumbs up,” ada lagi yg bilang sangat menginspirasi. Penasaran? Tentu saja… karena dilihat dari covernya seperti buku untuk anak-anak, dilihat dari judulnya seperti cerita dari negri dongeng. Tapi sulit sekali mencari buku ini, belum terbitlah, belum diterjemahkanlah, sudah tidak dicetak ulanglah dan semua respon negatif setiap bertanya perihal buku ini di toko buku.

Jadi ketika suatu hari saya sedang mengaduk-aduk tumpukan buku bekas di kios langganan saya, awalnya saya bermaksud menarik buku lain tapi karena buku ini cukup tipis tanpa sengaja ikut tertarik. Sekilas saya lihat covernya, ilustrasi seorang anak laki-laki kecil sedang berdiri di atas bola berwarna abu-abu plus stiker Mickey Mouse yg tertempel dengan manisnya. Hampir saja saya letakkan lagi buku ini sebelum menyadari buku apa yg saya pegang. Kalau tak malu dengan pengunjung lainnya sudah pasti saya akan melompat-lompat kegirangan.

Seperti kita ketahui, Le Petit Prince telah diterjemahkan kedalam 180 bahasa bahkan lebih dan novel ini menjadi novel terlaris sepanjang masa. Beberapa orang yg pernah membaca dan menuliskan review berkomentar kalau buku ini sangat bagus, inspiratif, sarat makna dst… dst… dst…

Saya masih bisa sedikit menangkap bahwa orang-orang yg ditemui Pangeran di Asteroid itu menggambarkan sosok pemerintah yg korup, lalim, dan gila hormat. Sedangkan makhluk-makhluk yg ditemui di Bumi tak lain dan tak bukan adalah nafsu dari manusia itu sendiri.

Tapi… setelah selesai membaca buku ini kata-kata yg saya ucapkan pertama kali adalah, “Apa sih?” Sedikitpun saya tidak menikmati saat-saat membacanya, buku ini filsafat banget ga ngena buat saya. Pengennya tuh… kalau baca buku itu tenang, santai dan fun tapi itu tidak saya dapatkan dari buku ini, malahan saya merasa tegang, jidat berkerut dan mata jadi berkelambu. Untungnya buku ini tipis jadi saya masih bisa bertahan hingga akhir. Mungkin memang ilmu saya yg cethek dan tidak pintar berfilosofi, terserah anda bolah katakan saya apa tapi saya tidak bisa berbohong saat saya katakan saya tidak menyukai buku ini.

Advertisements

10 thoughts on “Pangeran Kecil

  1. nee says:

    Wah, saya malah pengen banget baca buku ini.
    Tapi saya nyari kemana-mana udah nggak ada yang jual kayaknya.
    Tapi terima kasih buat reviewnya 🙂

    • dewiyani says:

      Dari sisi isi sih bagus mbak, sangat berbobot. Hanya penyampaiannya yg saya kurang suka, filosofis sekali. Saya jadi harus mikir apa yah… maksud penulis ini.

    • dewiyani says:

      Aih… saya justru lebih sedih lagi saat tau Aleetha ga suka dengan komentar saya. Tapi memang itu yg saya rasakan saat selesai membaca buku ini. Maaf ya sis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s