Pengakuan Pariyem

No: 014
Judul Asli:  Pengakuan Pariyem
Penulis:  Linus Suryadi AG.
Desain Sampul:  Wendie Artswenda & Marcel A.W.
Penerbit:  PT. Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Cet. ke-1; Juni 2009
Ukuran:  314 hlm; 13 x 19 cm
Tgl beli:  Cimahi, 28 Sept 2009
Rating:  3/5

SPOILER ALERT:

PARIYEM, nama saya
Lahir di Wonosari Gunung Kidul pulau Jawa
Tapi kerja di kota pedalaman Ngayogyakarta
Umur saya 25 tahun sekarang
-tapi nuwun sewu
tanggal lahir saya lupa
Tapi saya ingat betul weton saya
Wukunya Kuningan
di bawah lindungan bethara Indra
Jumat Wage waktunya
ketika hari bangun fajar

Itu adalah sepenggal prosa pembuka buku ini. Ya buku ini bertutur tentang Pariyem seorang wanita Jawa, dari desa yg bekerja sebagai “babu” di kota besar Yogyakarta. Laiknya seorang babu, kehidupan Pariyem dipenuhi dengan pengabdian terhadap tuannya. Pariyem sosok yg digambarkan lugu, sabar dan nrimo adalah potret wanita Jawa pada umumnya.

Masa kecil Pariyem boleh dibilang bahagia, bapaknya seorang pemain ketoprak dan simboknya sindhen wayang kulit. Ia kerap mengikut ibunya manggung, duduk manis di belakang dalang. Setelah dewasa ia ngenger di rumah KRT. Cokro Sentono di nDalem Suryomentaraman, Ngayogyakarta sebagai babu.

Istri Ndoro Kanjeng, RA. Cahya Wulaningsih biasa dipanggil nDoro Ayu, seorang yg ayu, luwes, halus tutur katanya, teduh pandangannya serta memiliki jiwa yg luhur dan mulia. Mereka mempunyai 2 orang putra, laki-laki dan perempuan. Yg laki-laki bernama RB. Aryo Atmojo, seorang mahasiswa kuliah di UGM jurusan filsafat. Yg perempuan bernama RA. Wiwit Setyowati, kuliah di Sarjana Wiyata dan sore harinya ngajar beksan di nDalem Pendopo Taman Siswa.

Pariyem betah dan krasan kerja disana, karena keluarga nDoro kanjeng tidak pernah membeda-bedakan status. Hingga pada suatu hari Pariyem dan Den Bagus Ario melakukan hubungan yg tidak seharusnya dilakukan. Pariyem pasrah dan tak kuasa menolak, malah ia menikmati dan menghayati perannya. Toh ia sudah tak perawan lagi, sudah ia berikan kepada Kliwon di sebuah gubuk kecil sepulang nonton wayang. Jadi saat Den Aryo menginginkannya, Pariyem lilo dan nrimo. Nilai-nilai luhur wanita Jawa sudah ia lupakan, harga diri dan kehormatan sudah tak tersisa.

Masalahpun muncul saat tiga bulan kemudian Den Ayu Wiwit menemukan Pariyem muntah-muntah. Malam harinya diadakan pertemuan keluarga dan semuanya setuju Pariyem dikembalikan ke rumahnya hingga melahirkan. Setelah melahirkan ia boleh kembali bekerja di nDalem Suryomentaraman. Semua kebutuhan dan biaya hidup sang bayi akan dipenuhi nDoro Kanjeng. Sekali lagi Pariyem harus pasrah saat tak ada pernikahan, tak ada upacara resmi, dan gendhing Kebo Giro.

Ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
“Iyem” panggilan sehari-harinya
di Wonosari Gunung Kidul
Tata lahirnya, saya hanya babu
tapi batinnya, saya selir baru.

Tak salah rasanya saat itu sy mengambil buku ini dari sebuah toko buku di Cimahi, Bandung. Inilah kali pertama sy berkenalan dengan prosa lirik dan segera sy jatuh cinta dengannya. Sy tak paham seperti apa prosa itu sebenarnya, toh sy tetap menikmati irama kalimat dalam buku ini hingga halaman terakhir.

Pengulangan lirik tidak terasa membosankan karena disampaikan dengan ringan. Bahkan saat berbicara masalah ranjang, saya tidak merasa “saru” membacanya karena digambarkan dengan sopan dan indah. Pada akhirnya meski sy harus menggeleng tak setuju dengan tingkah polah keluarga nDoro Kanjeng dan memberikan nilai negatif, tetap buku ini adalah buku yg patut dibaca.


“Lha di sorga, Gusti Allah tak bertanya:
Agamamu apa di dunia? Tapi ia bertanya:
di dunia kamu berbuat apa?”
-p.18

“Lha iya, orang Jawa itu
Kalau ditaling
dan ditarung
Kalau dipepet
dan dilelet
Kalau dibului
dan dicakra
Kalau diwignyan
dan dipengkal
Dia akan bebunyi
dia akan hidup
Tapi kalau dia dipangku
dia akan mati kutu”
-p.47

PS:
Reading Challenge: Name in a Book Challenge 2012

Advertisements

10 thoughts on “Pengakuan Pariyem

  1. enggar says:

    Saya baca buku ini waktu SMP :). Inget banget buku ini diletakkannya nyempil, kayanya memang sengaja dijauhkan dari pandangan oleh ortu saya :). Kesan saya dulu, kok menyedihkan ya jadi perempuan jawa. Tapi anehnya yang mengalami kok ya biasa saja? Jadi pengin baca buku ini lagi :).

    • dewiyani says:

      Ah… klo untuk anak usia SMP memang sedikit vulgar ya, wajar saja klo diumpetin sama ortunya #geli
      Saya jg merasa “ngenes” membacanya, tp yg menjalani baik-baik saja kok karena sikap perempuan Jawa itu pada umumnya nrimo, sabar dan pasrah. Seperti kata Pariyem: “Gusti Allah itu tidak sare”

    • dewiyani says:

      Betul… itu kalimat yg paling mengena buat saya 🙂
      Ga terasa sedih kok mbak hanya ironis aja, anaknya adalah anak juragan tp dianya tetep aja statusnya babu. Tapi Pariyemnya senang-senang aja dengan kondisi seperti itu. Apa yah… plg ngenes di dalam hati 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s