Hunger Games #1: Hunger Games

No: 020
Judul Asli: Hunger Games #1: Hunger Games
Penulis: Suzanne Collins
Alih Bahasa: –
Desain Sampul: –
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: –
Ukuran:  –
Tgl beli:  Pinjam @perpuserap
Rating:  4/5

Buku bergenre dystopia ini mengambil setting masa depan dimana negara Amerika Utara sudah musnah. Sebagai gantinya berdiri negara Panem, dengan Capitol sebagai ibu kotanya. Negara Panem terdiri dari 12 Distrik (sebetulnya 13 tapi Distrik ke-13 telah dihancurkan) dan Katniss Everdeen, 16 tahun, tinggal di distrik 12 bersama ibu dan adiknya. Sejak ayahnya meninggal dalam sebuah ledakan di tambang batu bara, Katnis mengambil alih tanggung jawab atas keluarga karena ibunya tenggelam dalam depresi berkepanjangan.

Setiap tahun Capitol mengadakan sebuah acara yg dikenal dengan nama Hunger Games. Acara ini dibuat sebagai peringatan atas pemberontakan yg pernah terjadi. Setiap distrik harus mengirimkan 2 orang wakilnya, laki-laki dan perempuan untuk bertarung di arena Hunger Games. Saat nama adiknya terpilih sebagai peserta Hunger Games, Katniss langsung mengajukan diri untuk menggantikannya karena ia tahu adiknya tidak akan bertahan hidup. Peserta lainnya adalah Peeta Mellark, anak tukang roti yg tidak diharapkan Katniss menjadi peserta karena Katniss pernah berhutang budi padanya. Berhasilkah Katniss mengatasi peserta lainnya dan bagaimana ceritanya jika peserta yg tersisa adalah Katniss dan Peeta, haruskah mereka saling membunuh? 24 peserta 1 yg tersisa adalah pemenangnya.

Kalau sebelumnya saya cukup terperangah dengan banyaknya darah yg mengalir di buku Game of Thrones, kali ini bukan terperangah lagi tapi bergidik ngeri. Idenya sih boleh sebuah penyegaran setelah kita dijejali kisah Harry Potter dan Twilight. Alurnya cepat dan disajikan dengan sangat cepat hingga ingin rasanya segera menghabisi buku ini. Namun… konsep cerita di buku ini sangatlah kelam. Tatanan moral dan sosial sudah hancur. Bayangkan saja, masyarakat yg setiap harinya harus berjuang hanya untuk bisa melihat hari esok harus mengirimkan salah satu anggota keluarganya untuk bertarung, untuk saling membunuh atau dibunuh. Belum lagi campur tangan para petinggi yg bisa menggiring pertarungan ke arah yg mereka inginkan. Jadi sah-sah saja kalau hampir sepanjang buku ini dipenuhi oleh darah muncrat dan nyawa yg melayang sia-sia bahkan yg telah matipun masih dimanipulasi sebagai mesin pembunuh. Tapi boleh percaya atau tidak kekerasan itu adalah candu. Begitupun saya yang telah kecanduan dengan buku ini.

Saya bingung buku ini sebetulnya ditujukan kepada siapa. Kepada anak muda kita? Mudah-mudahan mereka punya wawasan yg cukup untuk memilah mana yg boleh ditiru dan mana yg tidak. Kepada pemerintah kita… huff rasanya sia-sia saja, mereka terlalu sibuk dengan kaumnya sendiri dan  tidak akan sempat mengambil sedikit pelajaran dari buku ini. Baiklah kalau begitu kita nikmati saja buku ini dengan santai, anggap ini hanya sebuah cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s