Hunger Games #2: Catching Fire

No: 021
Judul Asli:  Hunger Games #2: Catching Fire
Penulis:  Suzanne Collins
Alih Bahasa: Hetih Rusli
Desain Sampul:  –
Penerbit:  Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Cet. 1, Juli 2010
Ukuran:  424 hlm; 20 cm
Tgl beli:  5 Februari 2012, TM. Bookstore Poins Square
Rating:  4/5

Setelah selesai membaca buku Hunger Games, saya melanjutkan dengan membaca buku keduanya Catching Fire. Buku kedua dari Trilogi Hunger Games ini masih bercerita tentang Katniss Everdeen. Strategi Katniss yg berpura-pura mencintai Peeta dan memilih bunuh diri dengan memakan buah berry telah menyelamatkan nyawa Peeta. Capitol terpaksa mengakui mereka berdua sebagai pemenang Hunger Games ke-74.

Yang tidak disadari Katniss adalah, aksinya tersebut pelan-pelan telah membangkitkan semangat pemberontakan di beberapa distrik untuk menentang kekuasaan Presiden Snow hingga menyulut kemarahan Capitol. Sebagai pemenang Hunger Games, Katniss dan Peeta harus menjalani serangkaian tur kemenangan dengan cara mengunjungi setiap distrik yg ada di Panem. Presiden Snow memaksa Katniss meneruskan sandiwaranya dan meyakinkan penduduk distrik bahwa perbuatannya di Hunger Games dikarenakan rasa cintanya kepada Peeta. Jika gagal maka nyawa orang-orang yg disayangi Katniss menjadi taruhannya.

Kalau hanya itu saja, buku ini pastilah terasa membosankan. Namun Suzanne Collins dengan sangat piawainya menggiring para pembaca memasuki Quarter Quell. Sebuah pertandingan serupa dengan Hunger Games yg diadakan setiap 25 tahun sekali. Berbeda dengan Hunger Games biasa yg pesertanya adalah penduduk distrik yg terpilih melalui undian. Maka peserta Quarter Quell diambil dari para pemenang Hunger Games di masing-masing distrik. Awalnya Katniss dan Haymith yg terpilih sebagai peserta, tapi Peeta segera mengajukan diri menggantikannya. 24 Peserta kali ini benar-benar menarik, kecuali para peserta karir yg memang mengabdikan dirinya untuk Hunger Games, peserta lainnya banyak yg telah menua atau melarikan diri dari kenyataan dengan cara mabuk-mabukan atau menjadi pemadat. Sekali lagi mereka dipaksa kembali ke arena yg mereka benci. Ini adalah salah satu cara Capitol untuk menunjukkan kepada semua distrik bahwa kekuasaan mereka tak tergoyahkan.

Dibandingkan buku pertamanya, buku ini jauh lebih menarik karena tidak melulu berisi pertarungan hidup dan mati tapi hubungan antara para pesertanya juga lebih diangkat dan lebih banyak drama. Para peserta saling bersekutu dan memainkan strategi untuk memenangkan kelompoknya. Ada perkembangan karakter menjadi lebih baik. Katniss yg semula digambarkan sebagai sosok superpower menjadi lebih manusiawi.

Kekurangan dari buku ini adalah tidak adanya grafis yg bisa membantu saya berimajinasi seperti apa arena Quartel Quell itu… Eh tapi klo ada grafisnya ga seru lagi dong ya, sudah ketauan dari awal kalau begitu. Mungkin diletakkan di halaman belakang atau… disisipkan ilustrasinya saat mereka sadar dengan bentuk arenanya. Karena sampai sekarang saya masih kesulitan membayangkan bentuk cornoucopia itu 😦

Advertisements

3 thoughts on “Hunger Games #2: Catching Fire

  1. sinta says:

    aku juga lebih suka cacthing fire dari hunger games, karena unsur politisnya lebih kerasa. dan suka banget ma aksi para petarung pas gandengan di atas panggung 😀

    pengen lanjut mockingjay tapi ditahan dulu biar lebih tentang bacanya

    • dewiyani says:

      iya mbak… buku pertama sepertinya hanya survive, survive dan survive. buku kedua ini lebih berisi meskipun di awal-awal agak membosankan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s