Kisah Tragis Di Balik Entrok

No: 024
Judul Asli: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Desain Sampul: Restu Ratnaningtyas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Cet. 1, April 2010
Ukuran:  288 hlm; 20 cm
Tgl beli: Pinjam di @kaskus66, @selebvi
Rating:  4/5

Entrok, novel pertama karya Okky Madasari yg mendapat apresiasi tinggi dari saya. Pemilihan cover yg apik, terbuat dari bahan bertekstur yg entah apa namanya, dengan efek glossy pada gambar entroknya seperti memberi penekanan akan isi buku ini. Sungguh sebuah cover yg dari jauhpun sudah berhasil mengundang minat untuk sekedar menyentuhnya. Hanya sayangnya kelemahan kertas cover jenis ini adalah mudah sekali meninggalkan jejak retak-retak (pecah) jika terlipat sedikit saja.

Penempatan bab terakhir pada awal cerita yg semula membingungkan jadi terasa masuk akal saat saya selesai membaca buku ini. Yg awalnya sempat berpikir, “iki piye tho, kok cerita ga nyambung ngene?” Jadi manggut-manggut sambil bergumam, “cerdas.”

Seharusnya dengan melihat gambar sampulnya kita langsung tahu yg dimaksud dengan entrok. Tapi jujur saya baru tahu kalau entrok itu adalah bh setelah membaca buku ini, karena dalam bahasa jawa yg saya pakai sehari-hari bh disebut kutang. Tapi jangan anda terjebak dengan sampulnya yg bergambar sepasang tangan tengah memasang atau melepas kaitan entrok kembang-kembang, lantas berpikir negatif oh pasti bukunya tentang esek-esek ini.

Tidak. Entrok hanyalah jadi sepenggal kisah pembuka cerita yg jauh lebih dalam dan bermakna. Melalui tokoh Sumarni, sang penulis mencoba menggambarkan perjuangan seorang wanita sederhana dan buta huruf untuk keluar dari belitan kemiskinan. Berawal dari keinginannya membeli sebuah entrok untuk menahan buah dadanya yg semakin berisi, Marni mau menjadi kuli panggul di pasar dengan upah sekeping atau dua keping rupiah, sebuah profesi yg tak lazim dijalani kaum wanita saat itu. Meskipun buta huruf dan tak makan sekolahan, Marni itu perempuan yg cerdas dan punya naluri bisnis kuat. Setelah sebuah entrok terbeli, sisa uang hasil ngulinya dibelikan barang dagangan di pasar yg dijual berkeliling desa. Sedikit demi sedikit usaha Marni semakin maju dan akhirnya Marni jadi orang paling kaya di Desa Singget.

Sayangnya seperti sudah lazimnya terjadi dimana ada “kere munggah bale” pasti ada omongan tak sedap di seputarnya. Begitupun dengan Marni, ia harus tahan digujingkan orang dituding tak beragama, memelihara tuyul, cari pesugihan dan gunjingan lain yg menyakitkan. Padahal kalau butuh duit mereka itu larinya ke siapa? Ya Marni tho. Belum lagi “aparat negara” yg dengan dalih uang keamanan, sumbangan, atau untuk kepentingan negara secara rutin minta setoran dari Marni. Daripada dicap PKI semua itu diiyakan saja olehnya dengan hati mrongkol.

Kalau saja Rahayu anak semata wayangnya tidak ikut-ikutan, Marni mungkin masih bisa menerima semua hinaan dan tindasan itu. Tapi Rahayu yg katanya anak kuliahan, guru dan aktivis agama di kampusnya malah ikut-ikutan menuduh ibunya seorang pendosa. Seharusnya sebagai orang yg berpendidikan tinggi tahu kalau Marni itu hanya orang buta huruf, yg tidak kenal Tuhan dari kecil. Mustinya metode yg digunakan adalah pendekatan secara pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Bukannya malah terang-terangan menjadikan Marni sebagai musuhnya.

Membaca buku ini sungguh membuat perasaan pegel, trenyuh dan teriris-iris. Meskipun Marni adalah seorang rentenir, saya justru lebih menyukai sosoknya yg sederhana ketimbang memilih Rahayu anaknya yg katanya pinter tapi sok beragama itu. Buat saya sah-sah saja kalau Marni menyembah Mbah Ibu Bumi, ya karena hanya itu yg dia kenal dari kecil. Kalau mau dipikirkan lebih lama sebetulnya yg dimaksud Mbah Ibu Bumi itu tak lain dan tak bukan ya Gusti Allah. Hanya perwujudannya yg berbeda. Saya juga tak meyalahkan Marni yg membungakan uang, ya wajar tho namanya usaha kalau ngambil untung (bunganya yg ketinggian kali ya).

Dengan sangat cerdas, sang penulis memaparkan konflik antara ibu dan anak yg diramu dengan polesan rejim orde baru. Tak sedikit peristiwa besar yg disinggung disini (meskipun tidak diulas lebih jauh) misalkan saja pemboman Candi Borobudur, Cap PKI, Waduk Kedung Ombo, Coblos No. 2, dsb. Sebuah karya sastra dengan rentang waktu panjang (1950-1994) yg mampu membuka mata saya dengan situasi dan kondisi yg sesungguhnya terjadi pada saat itu. Sebuah kritik sosial yg masih malu-malu menunjukkan taringnya. Apapun itu sungguh ini adalah sebuah karya sastra yg pantas dibaca oleh siapapun juga.

Advertisements

10 thoughts on “Kisah Tragis Di Balik Entrok

  1. Pingback: beli buku murah
  2. bima says:

    dari kacamata saya yang suka baca review ( karena saya beli buku kabanyakan karena baca review ). semua review selalu bagus tapi bedanya ada yang membuat saya yang pengen baca bukunya dan gak pengen baca bukunya meskipun reviewnya bagus banget.

    nah punya sis dewok ini bagus dan membuat saya pengen baca karena penggambaran review yang sangat bagus. kayak dikasih taster sebuah makanan dan pengen coba makanannya.

    kelemahannya dari review ini adalah lagi2 bahasa dewa 😦 “kere munggah bale” lalu mronggol *maaf kalo saya salah tulis 😦 ) mungkin sis dewok bisa kasih artinya apa. karena buat ada beberapa pembaca yang suka berhenti baca review kalo dah keluar bahasa dewa tanpa arti gt 😦

    bisa aja sih cek artinya di google. tapi sekarang era black berry berkembang daripada internet di rumah yang statis yang bisa multitab buat nyari artinya bahasa dewa tersebut. blackberry tidak menyediakan multitab gt jadi yah males banget cari tau artinya gt. hehehe..

    saya suka reviewnya sis,,, saya bookmark yah blognya.

    • dewiyani says:

      wuooo bima thank you dibilang bagus hug & kiss dulu.
      hehehe, soal penggunaan bhs jawa memang kadang suka keselip.
      kere munggah bale = orang miskin jadi kaya
      mrongkol = gondhok, mangkel dalam hati

      • bima says:

        iya sis dewok,, saya orang jawa gak ngerti bahasa jawa soalnya ( malu banget pake nama raden tapi gak bisa bahasa jawa ). gpp keselip, membuat saya mudah tau ini review punya siapa, kalo ada bahasa2 jawa berarti punya sis dewok. ada ciri khas dan signaturenya. hehehe.

      • dewiyani says:

        Bisa kaya gitu maksudnya gila bukan ya?
        Mungkin lho ini om, itu akibat stress yg sudah mencapai puncaknya. Selama ini kan Marni berusaha meghindari masalah daripada di bui terus dicap PKI. Lha ini malah anak semata wayang yg digadang-gadang ditolak sama anak kusir andong karena di KTP nya ada tulisan ET. Ibaratnya penolakan Pak Kirun itu gongnya, apa nggak nelangsa itu om…

        Eh udah ada ya, aku ngantri klo begitu 😀

      • iwan says:

        iya, kaya orang linglung gitu..tp gw lebih ngeliat ke nasibnya si rahayu, dia kan berusaha buat baikan sm ibunya, eh malah ibunya jadi kaya gitu..ngenese polllllll.. btw, ini spoiler to the max 😀
        yoo, mumpung blm ada yg minjem 😮

      • dewiyani says:

        oh iya rahayu jg sempet linglung selepas dr bui ya… bukan baik-baikin itu om, dia seperti udah pasrah udah ga punya harapan hidup. tapi aku tetep ga simpati om, kualat Rahayu itu… sejelek-jeleknya Marni kan tetep aja dia yg melahirkan Rahayu toh? ndak semestinya di berbuat seperti itu, memutuskan tali silaturahmi bahkan ngejudge ibunya sendiri pendosa, lha wong ngomong dgn nada tinggi aja nggak boleh je.
        iya nih komentarnya banyak spoilernya 😀
        sip… nanti aku isi format peminjaman di serap

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s