Terjangkit Virus Amor Deliria Nervosa

No: 026
Judul Asli: Delirium
Penulis: Lauren Oliver
Alih Bahasa: –
Desain Sampul: –
Penerbit: Mizan Fantasy
Tgl Terbit: –
Ukuran: 518 hlm
Tgl beli: 03 April 2012, TM. Bookstore Poins Square
Rating: 3/5

Ah… satu lagi buku bergenre dystopian. Sepertinya istilah “latah” juga melanda para penulis. Hanya karena Hunger Games menjadi booming, semua menulis tentang dystopia. Gak percaya? Tengok saja sederet buku berikut ini Uglies, Maze Runner, Shatter Me, Incarceron, Divergent, dan masih banyak lagi buku yg katanya bergenre dystopia itu.

Delirium adalah buku kedua Lauren Oliver setelah Before I Fall yg sempat melambungkan namanya (di negaranya sana yah, disini mah nggak), buku ini juga mengambil genre dystopia tersebut. Alkisah ada sebuah dunia dimana cinta adalah tabu, dimana gairah adalah sebuah dosa besar, dimana musik, puisi dan tari adalah sesuatu yg terlarang. Peraturan yg dibuat dengan sangat ketat ini dimaksudkan untuk mencegah para remaja tertular penyakit sebelum mereka bisa disembuhkan. Semua penduduk yg genap berusia 18 tahun, diwajibkan mengikuti prosedur penyembuhan dari wabah penyakit “amor deliria nervosa.”

“Karena cinta akan mempengaruhi pikiranmu hingga tidak bisa berfikir dengan jernih,
atau membuat keputusan yg rasional untuk kebaikanmu sendiri.”

Lena Halloway, seorang gadis yg usianya beranjak 18 tahun sedang menunggu giliran untuk “disembuhkan.” Sejarah keluarganya yg suram membuat Lena tak sabar menunggu sembilan puluh lima hari yg harus dilaluinya sebelum ia mendapatkan predikat “telah disembuhkan.” Ia ingin seperti teman-temannya yg setelah disembuhkan menjadi lebih stabil emosinya, lebih tenang pembawaannya, bebas dari wabah cinta, dan tidak perlu khawatir lagi akan dikenai jam malam. Bebas… itulah yg diinginkan Lena.

Namun semuanya berubah saat Lena berkenalan dengan Alex Sheates. Bersama Alex, Lena berani melanggar peraturan dan perlahan-lahan mengenal arti kebebasan yg sesungguhnya. Sayangnya waktu terus berjalan, dan proses penyembuhannya semakin dekat. Lena harus memilih antara kebebasan yg dijanjikan oleh pemerintah selama ini atau kebebasan baru yg belum lama dikenalnya dari Alex.

Delirium memiliki konsep cerita cukup menarik, dimana cinta adalah sebuah penyakit yg bisa mengakibatkan ketidakseimbangan emosi yg berbahaya dan bisa mengakibatkan kematian pada penderitanya. Sayangnya tidak ada penjelasan yg masuk akal kenapa dan sejak kapan cinta dikatagorikan sebagai penyakit berbahaya. Jadi sepanjang saya membaca buku ini, benak saya terus bertanya, “Apa sih masalahnya dengan cinta? Mengapa cinta yg selama ini begitu diagung-agungkan harus menjadi momok yg ditakuti.” Karena yg saya tahu, kehilangan cintalah yg patut diwaspadai karena bisa mengakibatkan efek galau berkepanjangan. Hahaha… maaf, tapi saya masih berharap akan menemukan jawaban itu di buku selanjutnya.

Kemudian soal pemilihan genre yg katanya dystopia itu, kesan saya selama ini dystopian adalah sebuah dunia dimana tatanannya sudah rusak parah, kebencian, kemiskinan, kelaparan dan penderitaan dimana-mana hingga untuk sekedar berharap akan adanya secercah cahayapun tak bisa. Namun hal itu tidak saya peroleh disini. Penggambaran yg detil dari sang penulis memudahkan saya membayangkan situasi dan suasananya. Hidup penduduknya ga susah-susah amat kok, masih bisa makan, minum, sekolah, dll. Hanya memang dibatasi dengan aturan yg ketat, jadi sangat jauh dari kesan dystopia yg ada dalam bayangan saya selama ini. Malah rasa-rasanya era yg diambil tidak jauh dari masa sekarang, kurang tepat saja klo dikatagorikan sebagai buku bergenre dystopian.

Alur cerita mengalir dengan lambat dan sedikit membosankan. Untunglah setengah buku ke belakang alurnya mulai berjalan dengan cepat dan berhasil membawa saya ikut merasakan ketegangan dan bunga-bunga cinta yg mulai mekar. Karakter yg ada didalamnya terasa datar. Mungkin memang disengaja untuk mendapatkan kesan sebuah kehidupan tanpa emosi. Hanya Hana, sahabat Lena, yg karakternya terasa hidup karena ia berani mengekspresikan dirinya. Sayangnya, sepanjang membaca buku ini saya tidak pernah bisa lepas dari bayangan Uglies Series buku yg sempat saya baca. Banyak sekali kemiripan-kemiripan diantaranya.

Meskipun demikian (lupakan kekurangan-kekurangan diatas) saya sangat menikmati membaca buku ini, karena Oliver berhasil meyampaikan ceritanya dengan indah. Secara keseluruhan Delirium, buku yg ditujukan untuk para remaja ini adalah sebuah buku bergenre dystopia (meskipun bukan murni dystopian) yg cukup baik dan layak dibaca. Saya sangat menantikan terbitnya buku kedua Pandemonium. Akan seperti apakah ceritanya nanti?

Mungkin sebagai perbandingan boleh dicoba membaca buku disamping ini. Karya Scott Westerfeld yg bercerita tentang dystopian world, dimana kecantikan dan kesempurnaan lahiriah menjadi sesutu yg dipuja-puja.

Dan… mungkin anda akan setuju dengan saya 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Terjangkit Virus Amor Deliria Nervosa

  1. iwan says:

    dunianya aneh ya, ga boleh jatuh cinta..jadi inget Alphaville di novel after dark nya murakami..
    ini ada actionnya juga, apa full drama..

    • dewiyani says:

      iya om, intinya ga boleh ada kegiatan yg melibatkan emosi, manusianya dikondisikan seperti robot 😀
      lebih banyak dramanya, tp ada actionnya juga sih 9perasaanku loh). eh buku jg bisa dibilang drama & action ya err… penekanannya gmn ya? #malu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s