Menunggu Lampu Hijau

Aria menurunkan kecepatan laju motornya, lalu menepi. Kepalanya celingak-celinguk kebingungan. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya.

“Ah sial!!! Gue ada dimana sih ini.” Ia merogoh kantung jaketnya, mengambil selembar peta buatan tangan yang lecek karena terlalu sering dilihat dan dilipat. Tak banyak membantu, peta yang dibuat secara asal-asalan dan tergesa-gesa itu malah semakin menyesatkannya. Aria turun dari motornya dan menghampiri bapak-bapak penjual makanan di pinggir jalan.

“Pak… maaf mengganggu, mau numpang tanya. Jam Gadang ke arah mana ya?”

“Oh dari sini adik terus saja, nanti sampai di perempatan belok kanan. Tinggal lurus saja, dari situ juga sudah kelihatan kok Jam Gadangnya.”

“Masih jauh nggak pak?”

“Nggak, sudah dekat kok.”

“Terimakasih pak.”

Aria melompat ke atas BMW-nya dan memacu sekencang mungkin. Dalam hati ia terus berdoa semoga bebek merah warnanya ini tidak protes mendadak. Diliriknya G Shock warna hitam yang membalut pergelangan tangannya, tinggal lima menit lagi.

“Tunggu gue… tunggu gue. Argh!!!” Aria berteriak melampiaskan rasa frustasinya.

Sampai di perempatan, lampu merah tengah menyala. Aria menekan pedal rem dalam-dalam, ban motornya berdecit memekakkan telinga. Satu umpatan dan sedikitnya dua pelototan mata terpaksa diterimanya dengan pasrah.

Ia hanya bisa tersenyum kecut, matanya terus menatap lampu lalu lintas di depannya. Rasanya lama sekali lampu itu berubah. Tangannya sudah gatal ingin memutar gas dalam-dalam.

“Hijau… hijau… hijau. Cepatlah berubah. Argh lama sekali. Jangan-jangan rusak ini lampu merahnya!!!” Aria meradang.

Lampu perlahan-lahan berganti hijau. Aria langsung menggeber motornya, membelok tajam ke kanan nyaris menyenggol motor seorang ibu yang ada disampingnya. Di kejauhan tampaklah Jam Gadang yang sedari tadi dicarinya.

“Astaga jauh sekali,” keluhnya “semoga tidak terlambat.”

Aria memarkir motornya dan berlari menembus lautan manusia. Sore itu cuaca di taman Sabai Nan Aluih sangat cerah, udaranya juga sejuk. Banyak pasangan, tua, muda ataupun keluarga dengan anak-anak mereka yang berjalan-jalan menikmati suasana di ikon kota Bukittinggi ini. Aria meliuk-liukkan tubuhnya berusaha tidak menabrak siapapun. Ia tidak mengharapkan hambatan sekecil apapun saat ini. Terngiang-ngiang kata-kata Sitra beberapa jam tadi, sebelum ia bergegas pergi.

“Temui Winnie the Pooh di bawah Jam Gadang. Jam empat sore tepat, jangan sampai terlambat. Ingat jam empat tepat!!!”

Tepat di bawah Jam Gadang, Aria menghentikan langkahnya. Didongakkan kepalanya ke araha Jam Gadang, jarum jamnya menunjuk angka IIII. Terengah-engah ia mencoba mencuri nafas sebentar, matanya berputar nyaris 180 derajat mencari sosok Winnie the Pooh.

“Masih ada waktu.” Pikir Aria.

Ia melihat sosok Garfield, Mickey Mouse dan Donald tapi tidak ada Winnie the Pooh. Aria membalikkan tubuhnya dan tepat dibelakangnya, kurang lebih 300 m dilihatnya sosok Winnie the Pooh tengah berbicara dengan seorang ibu-ibu paruh baya. Bergegas Aria menghampiri mereka.

Saat Aria mendekat, dilihatnya Ibu itu tersenyum menjabat tangan Winnie the Pooh dan mengucapkan terimakasih. Aria mendekat, dijawilnya lengan Winnie the Pooh.

“Maaf, saya Aria yang tadi menelepon.”

Winnie the Pooh menoleh, memandang Aria sambil berkata, “kamu terlambat, ibu itu baru saja mendapatkan tiket yang terakhir.”

Aria langsung meradang mendengar jawaban itu, “Bagaimana bisa, ini baru jam 4 tepat. Saya belum terlambat. Sesuai perjanjian kamu tidak bisa menjual tiket itu kepada orang lain sebelum jam empat lebih seperempat.

“No way. Sekarang sudah jam setengah lima. Karena kamu terlambat saya berhak menjual tiket tersebut kepada orang lain.

“Apa-apaan ini. Loe ga liat ya Jam Gadang segede gaban di belakang loe tuh.” Karena emosi tanpa sadar Aria berbicara dalam logat Jakarta yang sedikit kasar. “Jam itu baru menunjukkan pukul 16.10.”

Winnie the Pooh mengelengkan kepalanya pelan, “Jam Gadang itu terlambat 20 menit. Sudah dua hari ini, nggak ada yang tahu apa sebabnya.”

Aria jatuh lemas pada kedua lututnya. “Argh… maafkan aku Sitra. Ini smua gara-gara lampu merah sialan itu. Seandainya aku tidak tertahan disana saat ini aku pasti sudah memegang tiket konser Cherybelle yang kamu inginkan itu.”

Note:
Maaf, belum pernah lihat jam gadang. Yang terbayang malah tugu Jogjakarta.
Ini Flash Fiction pertama saya, maaf kalau kentang.

Advertisements

2 thoughts on “Menunggu Lampu Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s