Pagi Kuning Keemasan

Rembang petang baru saja turun. Beberapa ratus meter dari bibir pantai, tampak sebuah perahu kecil terombang-ambing ombak. Diatasnya tampak dua orang laki-laki muda tengah mendayung perahu sekuat tenaga.

“Elu dayungnya yang bener Man”

“Lha… udah bener ini.” Sahut Arman sengit.  “Kalau ga bener udah kecebur kita.”

“Iya tapi jangan sampai kedengeran suaranya gitu” Protes Jono lagi.

“Cerewet amat sih lu, klo gitu lu dayung aja sendiri perahunya.” Arman menghentikan gerakan mendayungnya.

“Ettt dah… enak aja lu. Dayung lagi!” Jono menggerakkan dagunya memberi tanda supaya Arman kembali mendayung.

Lima meter dari bibir pantai, mereka meloncat dari perahu dan menyeretnya ke daratan. Arman menurunkan peralatan sementara Jono memungut ranting dan daun-daun kering untuk menutupi perahu. Setelah perahu tersembunyi dengan baik, mereka berjalan memasuki pulau terpencil itu dan bersembunyi di dalam hutan.

♦♦♦

Saat malam menjelang, mereka  mulai bergerak ke arah mercu suar buatan Belanda yang masih kokoh berdiri di pulau itu. Setelah sampai di samping mercu suar, Jono membuka petanya dan memeriksa kompas. Merubah arah tubuhnya dan mulai melangkah perlahan sembari menghitung, Arman mengikuti di belakangnya.

Setelah sekian ratus langkah dan beberapa kali belokan. Jono menghentikan langkahnya di depan sebuah batu besar menyerupai kodok, lalu berkata perlahan, “Man! Bantuin cari batu hitam yang bentuknya pipih lonjong.”

Rumput yang tumbuh tinggi disibakkan, batu-batu dicongkel dan digulingkan. Namun batu pipih yang dicari tidak juga ketemu. Mereka berdua kelelahan. Jono menendang-nendang batu berbentuk kodok disampingnya dengan frustasi. Sementara Arman bersandar kelelahan pada sebuah pohon besar yang akarnya menyembul ke tanah.

Arman mengusap peluh di dahinya. Meskipun udara di Pulau Lengkuas malam itu cukup dingin, mencari kesana kemari tanpa hasil telah membuatnya mandi keringat. “Salah kali petanya.” Ucap Arman.

“Ga mungkin salah! Kakek buyut gue sendiri yang menguburnya disini. Kalau batu hitam pipih itu nggak ketemu. Ada kemungkinan batu tersebut sudah dipindahkan, atau terkubur….” Jono tidak menyelesaikan kalimatnya dan berlari mendekati Arman. Matanya berkilat-kilat tangannya meraih linggis di dekatnya. “Arman!!! Minggir….”

Arman jatuh terjengkang saat Jono menyerbunya dengan linggis teracung di tangan. Jono mengungkit batu hitam besar pipih lonjong yang dari tadi diduduki Arman. Setelah batu itu terlepas, Jono mengganti linggis dengan pacul lalu mulai menggali.

“Gantian Jon!” Arman yang semula lemas tak bertenaga terbakar lagi semangatnya melihat Jono.

Bergantian mereka menggali tanah di dekat pohon besar itu. Setelah kira-kira 1.5 meter, pacul Jono menyentuh benda keras. Duk… hati-hati digalinya tanah di sekitar benda tersebut. Lalu dari dalam tanah dikeluarkannya sebuah peti besi kecil karatan. Dihantamnya gembok dengan pasak lalu dibukanya peti itu perlahan-lahan.

Arman menatap Jono penuh hasrat. “Yihaaa!!! Kita kaya. Aku kaya!!!” teriak Arman kegirangan.

Tiba-tiba sebuah suara yang berat dan besar mengagetkan mereka. “Hei! Siapa disitu!” Kilatan lampu senternya menyambar-nyambar tak jauh dari mereka.

Jono dan Arman terkejut setengah mati, untuk sesaat mereka diam tak bergerak. “Masukkin ransel Man, cepat.” Bisik Jono.

Arman menumpahkan isi peti itu ke dalam ransel. “Sudah!” Bisik Arman ketakutan sembari menyerahkan ransel.

“Lari!” Sahut Jono cepat sembari mengambil langkah seribu.

“Jon, perahu kita di sebelah sana.” Arman mengingatkan.

“Udah biarin aja, yang penting kita cari selamat dulu,” Jawab Jono sambil terus berlari.

Mereka berdua lari lintang pukang tak tentu arah, menerobos lebatnya hutan. Jono memimpin di depan sedangkan Arman menempel rapat di belakangnya.

“Et… et… et… stop stop stop. Setooppp!!!” Teriak Jono.

Gabruk, Arman yg tengah berlari sambil menengok ke belakang menabrak punggung Jono. “Apaan sih lu Jon, bilang-bilang dong kalo mau brenti.” Sentak Arman di sela-sela nafasnya.

“Tebing.” Desis Jono. “Putar arah, cari jalan lain.”

“Gila! Lu mau ditangkap sama penjaga mercusurar.” Arman mendelik tak percaya.

Sementara itu suara-suara di belakang mereka semakin mendekat.

“Habis gimana, gw juga bingung. Gw ga boleh ketangkap minggu depan gw mau kawin sama Marni.” Wajah Jono semakin pias. “Kita loncat”

“Apa! Tapi Jon!!!”

“Nggak ada tapi-tapian. Kita loncat atau ketangkep. Loncat!!!” teriak Jono sambil melompat dari pinggir tebing.

“Tunggu Jon. Di bawah situ kan…” Arman mengulurkan tangan berusaha menahan Jono. Terlambat. “…batu karang, bukan laut.” Perlahan Arman menyelesaikan kalimatnya yang terputus.

♦♦♦

Matahari pagi semakin meninggi, cahayanya yang kuning keemasan berpendar-pendar memberikan kehangatan. Sinarnya yang lembut menyapu seluruh sisi pulau dan berhenti pada kumpulan batu karang dimana tubuh Jono terbaring dalam posisi yang aneh. Kakinya tertekuk sedemikian rupa. Dari sisi kepalanya muncul genangan gelap yang semakin melebar. Tubuhnya bermandikan cahaya yang memantul dari emas, intan, permata dan batu merah delima yang berhamburan dari ranselnya yang sobek.

Note:
Cerita kentang kedua saya. Semakin kentang karena dari 1000 lebih dibabat habis jadi 700 lebih sedikit.

Advertisements

12 thoughts on “Pagi Kuning Keemasan

  1. dina says:

    Wow, mbak dew bagus banget ceritanya. Perbendaharaan katanya banyak. Emosi tokohnya keras. Cuman Mercu suar itu nggak digabung jadi satu ya? :hammer:

    endingnya malah bikin penasaran. 😀

    • dewiyani says:

      Puh dan jg komen perbendaharaan kata, maksudnya apa ya din? Aku ga ngerti. Msh belajar nulis soalnya.
      Mercusuar ya yg bener, nanti aku coba cek di KBBI 🙂
      Thanks dinho 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s