Jingga di Ujung Senja

Lokasi: Sungai Musi, Palembang

Faisal mengemudikan mobilnya dengan perlahan. Matanya terus menatap ke depan tapi pandangannya kosong. Berulang kali ia terkejut saat klakson di kanan kirinya menjerit, Ia harus mengerjapkan matanya beberapa kali supaya kembali fokus. Masalah yang tengah terjadi di kantornya akhir-akhir ini sangat berat sampai-sampai ia lupa memperhatikan penampilannya. Faisal yang biasanya tampil segar dan dandy sekarang kusam, jenggot lupa dicukur, rambut acak-acakan dan pakaiannya awut-awutan.

Setelah memasukkan mobil ke garasi, ia mengetuk pintu rumah perlahan. Yanti, istrinya, yang membukakan pintu. “Tumben.” Pikirnya dalam hati. “Bibi kemana?”

“Ahhh… papa ini pulang kerja yang dicariin kok malah bibi.” Yanti mencebikkan bibirnya dengan manja. “Bagaimana pah, seharian ini di kantor? Papa pasti capek, sini aku bawain tasnya.” Kata Yanti sambil mengambil tas kerja Faisal lalu melangkah ke kamar, sebelum menghilang ia membalikkan badan dan berkata, “oh iya Papa udah makan belum?”

“Belum.” Balas Faisal singkat.

“Ya udah klo gitu, sekarang Papa mandi dulu dan ganti baju. Habis itu kita makan sama-sama yuk. Hari ini Mama masak makanan kesukaan Papa lo.”

Faisal memandang sosok Yanti yang perlahan menghilang di balik pintu. Ia merasa heran atas sikap Yanti yang tidak seperti biasanya. “Ah… mudah-mudahan sebuah perubahan yang baik.”

♦♦♦

“Pah…”

“Hmm…”

“Jangan tidur dulu dong” Yanti berbisik ditelinganya lembut.

“Iya ada apa sih? Bicara aja aku dengerin kok.”

“Emm… tadi siang kan aku habis arisan sama ibu-ibu tuh, rame deh. Pah… papa” Yanti mencubit lengan suaminya saat dilihatnya Faisal menutup matanya.

“Iya… iya… ini aku dengerin. Ibu-ibu arisan kenapa?”

“Papa tau Arum nggak? Itu Arum yang suaminya temen sekantor Papa, dia tadi dateng ke arisan. Tumben-tumbenan tuh, padahal biasanya cuma nitip.”

“Lho memangnya dia ga boleh dateng? Siapa tahu dia kangen sama kalian.”

“Ih… Papa, dengerin dulu… aku kan belum selesai ngomong.” Seru Yanti dengan gemas. “Bukan gitu, bukan ga boleh. Masak dia tadi dateng dianterin suaminya naik mobil keluaran terbaru. Udah gitu dandanannya full, blink-blink.”

“Blink-blink?” Faisal mengernyitkan dahinya tak paham.

“Iya blink-blink. Di lehernya, di telinganya, tangannya sampai silau ngeliatnya. Katanya sih oleh-oleh dari suaminya dari luar negri kemarin, harganya… tau nggak pah? Ratusan juta. Ih! Dasar tukang pamer.” Tambah Yanti lagi sengit.

Faisal tersenyum geli, “Ya udah biarin ajalah.”

“Ngg… tapi Pah, gara-gara dia pakai semua perhiasan itu dia jadi pusat perhatian. Ibu-ibu pada ngerubungi dia, ngajak ngobrol dia. Aku kan juga pengen pah. Masak Yanti, istrinya Faisal kalah sama Arum. Papa sih kemaren pake nolak waktu ada tugas ke luar negri. Aku kan jadi malu di depan ibu-ibu yang lain.”

“Terus kamu maunya apa?” tanya Faisal sambil lalu, ia sudah bisa menduga ke mana arah pembicaraan ini berakhir.

“Aku mau perhiasaan yang sama seperti punya Arum. Aku ga mau diremehin sama ibu-ibu yang lainnya. Besok sudah harus ada ya pah.” Yanti memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.

“Iya… besok aku beliin sekarung.” Faisal membalikkan tubuhnya, pikirannya semakin kusut dan kepalanya berdenyut-denyut. “Ah… ternyata kamu belum berubah.” Keluh Faisal pelan.

♦♦♦

Hujan lebat yang seharian mengguyur kota Palembang perlahan mulai surut. Matahari perlahan-lahan tenggelam di barat kota menyisakan selarik warna Jingga di langit. Jembatan Ampera mulai bersolek, satu persatu lampunya menyala memberikan pendar-pendar keindahan. Denyut nadi kehidupan di atas Sungai Musi bertambah seiring senja.

Lalu lintas di Jembatan Ampera semakin ramai, banyak kendaraan lalu lalang di atasnya. Beberapa kendaraan yang tengah melaju menurunkan kecepatannya, tak sedikit yang berhenti dan diparkir sembarangan. Sementara penumpangnya berhamburan lari ke tepi jembatan. Bergerombol pada suatu titik. Suaranya riuh rendah, semuanya berebut ingin berbicara dan berteriak.

“Bapak… namanya siapa? Turunlah dahulu, kita ngobrol dulu pak. Atau mau saya teleponkan istri Bapak mungkin?”

“Pak… turun pak. Apapun masalah Bapak pasti bisa dibicarakan baik-baik. Pasti ada jalan keluarnya. Nggak harus berakhir begini pak.”

“Iya pak… bunuh diri itu dilaknat Tuhan pak.”

“Bapak nggak kasihan sama anak dan istri yang menunggu di rumah.”

“Hei… jangan nekad pak! Mati itu nggak enak”

Suara-suara itu menusuk gendang telinganya, berdenging di kepalanya. Faizal ingin menyuruh mereka semua diam tapi suaranya terlalu lemah untuk didengar. Faizal semakin kuat mencengkeram tiang jembatan, kakinya mulai lemas dan gemetar karena terlalu lama berdiri di atas jembatan. Sementara angin berkesiur menghembuskan udara malam yang dingin.

“Apa yang harus kulakukan?” Rintih Faisal putus asa.

Sementara itu, beberapa kilometer dari Jembatan Ampera di sebuah rumah mewah berwarna hijau muda, Yanti tengah duduk di teras. Ia sengaja berdandan secantik mungkin untuk menyambut Faisal. Lamat-lamat terdengar suara televisi dari dalam rumah, seorang reporter salah satu TV swasta tengah melaporkan update berita terkini: “Saat ini Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan tersangka baru kasus dugaan korupsi mark-up pengadaan alat-alat kesehatan…”

Advertisements

8 thoughts on “Jingga di Ujung Senja

    • dewiyani says:

      Eh msh ada yg beda ya? Perasaan udah dibaca ulang udah disamain.
      Iyuhhh… takut ah, ntar diprotes sm Luna 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s