Kerudung Merah

Lokasi: Danau toba, Sumatera Utara

Ini adalah hari keempat dimana seharusnya aku ikut dalam kontes #15HariNgeblogFF2. Kali ini settingnya di Danau Toba, Sumatera Utara dan judul yang dipilih adalah Kerudung Merah. Sigh… kulihat tumpukan dokumen di mejaku, belum tersentuh sama sekali. Sementara ide tak kunjung datang. Buntu.

Satu jam lebih mataku menatap nanar ke layar komputer. Nol besar. Kuarahkan kursorku ke mesin penjejak, iseng-iseng kuketikkan kata danau toba dan kerudung merah. Aku tak berharap banyak sebetulnya. Puluhan entry hasil pencarian dengan kata kunci “Danau Toba + Kerudung Merah” seketika muncul di layar komputerku.

Perlahan-lahan kugulung ke bawah layarku, hingga aku tertumbuk pada satu entry yang menarik hatiku. Entah aku juga tak tahu apa sebabnya, mataku seakan terpaku disana. Rasa dingin merambati punggungku, jari tanganku yang menggenggam mouse terasa kaku. Perlu sekian puluh detik bagiku saat akhirnya ku tekan mouseku. Klik!

Sebuah suara menderu tiba-tiba, kumiringkan sedikit kepalaku untuk mencari asalnya. Seketika sebuah pusaran waktu menghantamku, memutar dan memilin tubuhku. Jari tanganku, lenganku, wajah dan tubuhku perlahan-lahan hancur, melebur dan terpecah-pecah menjadi ribuan bilangan biner yang melesat masuk ke dalam layar komputer. Kesadaranku hilang lalu sepi.

Sayup-sayup kudengar suara gemericik air, gesekan daun dengan ranting dan siulan angin yg berkesiur. “Dimanakah aku?” Kubuka mataku pelan-pelan, kupompa paru-paruku, kurasai seluruh tubuhku. Utuh.

Kucoba menegakkan tubuhku yg terasa limbung. Kusandarkan pada sebatang pohon mencoba meredakan getaran di kakiku, lalu aku melangkah perlahan. Aku melihat cahaya yang berkilauan. “Apakah itu?” batinku lirih. Aku terus melangkah hingga kurasakan kerapatan pohon di sekitarku semakin jarang lantas menghilang.

Aku terpana, menatap takjub dengan apa yg kulihat. “Ini… ini… persis seperti gambar yang ada di layar komputerku tadi.” Gumamku tak percaya. “Bagaimana bisa…. Ah! Aku tak percaya, ini pasti mimpi.”

Terpesona dengan keindahan yg tiba-tiba ada di hadapanku membuatku terlambat menyadari sesuatu hal. Keindahan yang membiusku ini terasa hampa. Tidak ada kicau burung yang berloncatan di dahan pohon, tidak ada suara riuh dari jalan raya di kejauahan, tidak ada denyut kehidupan. Tidak ada apapun.

Tiba-tiba kudukku meremang, rasa dingin yang sama merambati punggungku. Kali ini lebih kuat, lebih dahsyat melumpuhkan urat syarafku. Kubalikkan tubuhku dan kulihat sebuah sosok di kejauhan, diantara lebatnya hutan yg berselimutkan kabut. “Siapa… siapa itu?”

“Masih juga kau bertanya siapa aku? Bukankah kamu yg telah membangunkanku dari tidur panjangku, memanggil-manggil namaku!” Jawab sosok misterius itu.

Ah entahlah, aku tidak bisa melihat gerakan bibirnya, pun mendengar langsung suaranya. Hanya saja aku mengerti, suaranya seperti gema di kepalaku. Suara yg dalam dan dingin mengiris kalbu. “Maaf… tapi aku tak mengerti. Aku tak kenal siapa adanya dirimu?”

Sosok itu bergerak mendekat, berjalan dengan perlahan pelan namun pasti. “Ah… tidak.” Jeritku lirih. Kukerjapkan mataku beberapa saat untuk memastikan “Dia… dia… melayang.”

Dekat dan semakin dekat. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya yg membekukan sumsum tulangku. Semakin sosok itu mendekat semakin sulit aku bernafas, seolah-olah udara di sekelilingku terhisap olehnya.

Aku beringsut mundur, tapi punggungku tertahan oleh sebuah pohon besar. Aku terkunci. Mati. Perlahan kututup mataku, pasrah. “Tidak… tidak… tidak!” Kugelengkan kepalaku kuat-kuat. “Aku harus kembali. Masih banyak yg harus kuselesaikan, apa yang telah kumulai 4 hari yang lalu. Masih ada kata-kata yang belum kuucapkan, terlalu banyak yg kupertaruhkan, keluargaku, pekerjaanku, hidupku. Tolong… tolong kembalikan aku.”

Tepat di hadapanku sosok itu berhenti. Diam.

Perlahan-lahan kubuka mataku dengan rasa jerih yang dalam. Jelas dan semakin jelas kulihat. “Maafkan aku. Maafkan.” Bisikku lirih saat sosok berkerudung merah itu mengangkat wajahnya.

Note:
Kali ini cerita kentangku full narasi, mudah-mudahan masih enak dibaca dan nggak membosankan

Advertisements

2 thoughts on “Kerudung Merah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s