Aku Kembali

Lokasi: Surabaya Old Town Area

“Yeah! Akhirnya aku bebas.” Heri melompat kegirangan.

Anto berjalan perlahan menyusul Heri masuk ke kamar. “Gimana ujian tadi kamu bisa?”

“Bodo amat dah… yang penting ujian sudah selesai, sekarang waktunya bersenang-senang, ” katanya sambil merebahkan diri di kasur.

“Her… ini mata kuliah penting lo, sayang kalau sampai jeblok,” Anto mengingatkan Heri. “Soal ujian tadi kan udah pernah dibahas 3 minggu yang lalu.”

“Ye… mana gue tau. Tiga minggu yang lalu kan gue ga masuk kuliah. Tepar. Kena tipes, inget gak lu?”

“Oh iya ya.” kata Anto sambil garuk-garuk kepala, “Terus sekarang kamu mau ngapain?” Tanyanya lagi.

“Pulang lah. Balik Jakarta, kangen gue sama kehidupannya.” kata Heri sambil tersenyum nakal.

“Jangan langsung ke jakarta, ikut ke rumahku dulu yuk. Barang sehari dua, habis itu terserah kamu mau kemana.” bujuk Anto meyakinkan.

“Memang ada apaan di Surabaya?” tanya Heri.

Anto memamerkan senyum putih cemerlangnya, “Ada deh…” katanya misterius.

♦♦♦♦♦

Jam 8:00 pagi Anto dan Heri sudah berada di parkiran sebuah bangunan tua di daerah Kebunrojo.

“Dimana ini Tok?” tanya Heri bingung.

“Ini namanya “House of Sampoerna” rumah ini tadinya milik keluarga Sampoerna. Itu lo merk rokok kesukaan kamu. Rumah ini sekarang diubah fungsinya menjadi museum dan termasuk salah satu tujuan wisata di Kota Tua Surabaya.”

“Ooo….” Mulut Heri membentuk lingkaran sempurna, “Terus kita mau ngapain pagi-pagi buta udah nongkrong disini? Katanya elu mau ngajakin gw ke tempat yang asyik-asyik kok malah ke museum?”

“Ya kita mau berwisata disini,” jawab Anto lantas duduk di trotoar.

“Hah! Nggak salah denger gue Tok? Sejak kapan elu doyan maen ke tempat beginian.” Heri mengedarkan pandangan matanya berkeliling, “Ini mah tempat maennya kutu buku ato tempat kakek dan nenek bernostalgia.” seru Heri kesal.

“Udah tenang dulu kenapa sih. Kita juga nggak lama-lama kok disini paling banter 2 jam, habis itu terserah kamu mau kemana.” jawab Anto.

“Ya udah, kalau gitu kita masuk yuk.” Heri berdiri lalu menepuk-nepuk celananya dari debu yang menempel, “Biar cepet selesai. Udah ga sabar pengen liat café yang waktu itu elu ceritain.”

“Nanti dulu… ambil nafas dulu,” jawab Anto tenang sembari memperbaiki duduknya, “kalau masuk ke tempat-tempat tua itu nggak boleh sembrono. Jangan grusa-grusu, nggak baik.” Tambahnya lagi.

“Hah! Maksud lo?” sahut Heri kebingungan.

Tiga puluh menit kemudian, Heri sudah tak sanggup menunggu lebih lama lagi. Mukanya ditekuk jadi dua, rambutnya berdiri saking tegangnya. “Ini udah 30 menit, nunggu apa lagi?”

Anto yang duduk dalam diam perlahan membuka matanya. Ia menengadah melihat matahari, menghirup dalam-dalam udara pagi di kota tua yang masih segar. “Yuk!” katanya singkat.

Heri hanya bisa melongo melihat tingkah polah Anto yang absurd, dirinya kesal setengah mati lantas mengekori Anto. Sampai di pintu masuk, langkahnya tertahan karena Anto berhenti, mulutnya terlihat komat-kamit.

Heri melongok dari balik punggung, “kesambet lu ya!”

Yang ditanya tidak menjawab tapi mendorong pintu masuk “House of Sampoerna.”

Sebuah suara merdu mendayu menyambut kedatangan mereka. “Selamat pagi selamat datang di House of Sampoerna”

Heri melihat pemilik suara tersebut dan terperangah, “Ya Tuhan bidadari darimana ini?”

Anto menyikut Heri, “Tutup mulutmu, malu-maluin,” celanya “ehm… selamat pagi mbak?” katanya.

“Eh… mas Anto selamat datang kembali,” sapanya lembut. “Ada yang bisa saya bantu?”

“Ini teman saya dari Jakarta, dia anak Sejarah sedang penelitian untuk skripsi…”

“Hah… nggak kok mb…” Heri terdiam saat merasakan sakit menyengat tulang keringnya, “eh… maksud saya iya mbak.”

“Teman saya ini pengen mengadakan pemelitian tentang Kota Tua di Surabaya. Kalau mau ikut Tur Surabaya Heritage Track masih bisa nggak mbak? Biar lihat-lihat dulu.” kata Anto dengan meyakinkan, sementara Heri di sampingnya menyumpah-nyumpah dalam hati.

“Hari ini penuh mas, tapi coba saya liat jadwalnya dulu ya.” Bidadari itu lantas berbicara dengan temannya.

“Eh… mbak klo sudah penuh nggak apa-apa mbak, lain kali saja.” sela Heri.

“Oh… nggak apa-apa Mas, Mas Anto ini kan pengunjung reguler jadi kami akan usahakan ekstra seat buat Mas Anto.”

“Maksudnya reguler bagaimana ya?” tanya Heri lagi berusaha tak memperdulikan rasa sakit di tulang keringnya yg kembali muncul.

“Iya Mas Anto ini pengunjung reguler, hampir setiap Minggu datang kemari bersama temanya. Kami dari pihak “House of Sampoerna” sangat menghargai kegigihan anak muda seperti Mas Anto ini dalam melestarikan sejarah negrinya sendiri. Padahal anak muda lainnya lebih suka pergi ke mall atau cafe. Jadi kami selalu mengusahakan yang terbaik untuk orang-orang seperti anda berdua ini,” jelas sang Bidadari, “ditunggu sebentar ya.” sambungnya sambil beranjak masuk ke salah satu ruangan di belakangnya.

Heri menoleh ke arah Anto, “jadi karena dia?” geramnya perlahan.

Yang di tanya cuma cengengesan.

Noted:
Flash Fiction Day 10
Postingan ini disertakan dalam kontes 15 Hari Ngeblog FF2

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s