Sasirangan

Lokasi: Pasar Terapung, Banjarmasin

Pagi itu Siti bangun tidur dengan hati yang berbunga-bunga. Tubuhnya masih rebah di tempat tidur, matanya terbuka lebar-lebar lalu bibirnya menyunggingkan senyum. Terbayang kembali tatapan mata Kiki yang penuh kehangatan, belaian lembut tangan Kiki di rambut hitamnya yang panjang dan sebuah kecupan lembut di pipinya. Siti terkikik geli mengingat kencan romantisnya semalem, ditutupinya mukanya dengan selimut, mukanya merona merah karena malu.

Enggan rasanya untuk mandi, pengennya seminggu ini nggak usah mandi biar jejak-jejak kasih sayang mereka bisa terus dirasakannya. “Ah tapi nanti jerawatan, mana bau iler lagi.” keluh Siti sambil bangkit dari kasur dan melangkah ke kamar mandi.

Selesai mandi Siti mematut-matut dirinya di depan cermin, dipilihnya sebuah baju yang sederhana tapi tetap bisa menonjolkan kecantikan alaminya. Hari ini Kiki mengajaknya ke Pasar Terapung membantu ayah dan ibunda Kiki berjualan. “Biasanya musim liburan begini banyak gadis cantik dari kota,” kata Siti kepada bayangannya di cermin, “kamu nggak boleh kalah sama mereka, bisa-bisa Kiki melirik gadis lain nanti.” tambahnya sambil tersenyum. Di pulasnya lipstik merah muda ke bibirnya, “Hmm… cantik juga aku ini,” puji dirinya sendiri.

Setelah itu Siti bergegas menuju rumah Kiki, hari sudah hampir siang dan membangunkan Kiki bukanlah hal yang mudah. Biar gempa sekalipun Kiki masih tetap bisa tidur dengan nyenyaknya.

“Surprise.” kata Kiki yang tengah duduk di teras sambil tersenyum lebar.

“Wow… tumben nih. Ga nunggu diguyur air dulu?” goda Siti sambil terus menatap Kiki yang terlihat semakin ganteng di matanya.

“Iya lah kan sudah ada janji dengan Si Cantik Siti.” balas Kiki. “Yuk ah udah siang nih.”

Kiki lalu menggengam tangan Siti, mengandengnya dengan mesra. Hati Siti semakin berbunga-bunga rasanya seperti sedang berada di negeri di awan. Sambil berjalan mereka bersenandung dan bercanda dengan riang.

♦♦♦♦♦

Sesampainya di pasar terapung, suasana belum terlalu ramai. Hanya ada beberapa pasangan yang berjalan-jalan atau sibuk memotret dan sedikitnya tiga kelompok wisatawan yang asyik menawar dagangan.

“Ah, itu dia,” ujar Kiki sambil menunjuk ke perahu ibundanya.

Dari kejauhan tampaklah perahu terapung Ibunda Kiki yang  tengah dikerubuti tiga orang pembeli. Siti pun berinisiatif memanggil orang tua Kiki, “maaak… paaak…” panggilnya sambil melambai.

“Hei Siti, ayo cepat bawa Kiki kemari, suruh dia bantu orangtuanya,” ibu Kiki membalas panggilan Siti. Mereka berdua pun beranjak ke perahu orang tua Kiki.

Siti melihat tiga orang perempuan tengah asyik memilih-milih kain Sasirangan. Mereka bertiga heboh sekali, ambil kain ini ganti yang itu lalu di sampirkan di pinggang, “pantes nggak?” tanya salah satu perempuan itu, setelahnya mereka ribut menawar harga. Siti geleng-geleng kepala melihatnya.

Salah satu perempuan yang terlihat lebih tenang dari ketiga wanita itu tiba-tiba menoleh memandang Siti dan Kiki yang memasuki perahu. “Wow… cantiknya.” tak sadar Siti bergumam lalu memperhatikan perempuan itu, rambutnya lurus sebahu dicat kecoklatan, kulitnya putih, hidungnya mancung dan bibirnya ah sangat menggemaskan.

“Kiki…” kata sang perempuan.

“Rina…” balas Kiki sama terkejutnya.

Meskipun suara perempuan itu sangat lirih, Siti bisa menangkapnya dengan jelas karena ia tengah memperhatikan perempuan cantik itu. Di pandanginya wajah Kiki dan perempuan cantik itu bergantian. “Mereka saling kenal rupanya. Jangan-jangan… ah nggak mungkin.” Di tepisnya perasaan cemas yang sempat menghinggapi hatinya. Di raihnya tangan Kiki dan di gengamnya dengan mesra. “Sayang, siapa kakak ini? Teman kamu kah?”

Yang ditanya tidak langsung menjawab “Ennnggg… Dik, ini teman kakak… dari Surabaya… kenalkan…” tukas Kiki terbata-bata.

“Oh teman kakak toh,” sahut Siti lega sambil mengulurkan tangan, “halo selamat datang di Banjaramasin” kata Siti riang, “saya Siti,” tambahnya lagi.

Perempuan cantik itu menyambut uluran tangan Siti sekenanya lalu meneruskan kesibukannya memilih. “Ih sombongnya.” batin Siti.

“Kak… ternyata perempuan kota besar itu sombong-sombong ya?” bisik Siti lirih sambil matanya terus menatap perempuan itu.

Kiki diam saja tidak menjawab. Merasa diacuhkan dicubitnya pinggang Kiki “Kakakkkkk!” serunya dengan manja, “Ih… Kakak gitu deh ditanyain kok diem aja. Malah kayak patung.”

Kiki gelagapan mendapatkan cubitan dari Siti yang bertubi-tubi. “Hih apaan sih. Jangan cubit-cubit gitu malu diliat pembeli.” sahut Kiki sambil menepiskan tangan Siti.

Habis dari tadi ditanyain diem aja, “Nggak tadi tuh Siti nanya sama kakak memangnya…” Siti tidak melanjutkan pertanyaannya saat dilihatnya perempuan cantik itu menatapnya dengan sinis. Mulutnya di dekatkan ke telinga Kiki lalu berbisik.

“Hus… sembarangan, nggak semuanya begitu.” jawab Kiki tersenyum geli.

“Eh kak… ntar siang kita jalan-jalan yuk.” kata Siti tiba-tiba.

“Apa?” sahut Kiki dengan sedikit panik.

“Iya… habis bantuin emak.” sahut Siti sambil berbalik membantu membungkus kain yang sudah dipilih. Siti tidak melihat wajah Kiki yang tiba-tiba memucat. Siti juga tidak melihat tatapan perempuan cantik di seberangnya yang setajam silet.

Note:
Flash Fiction Day 11
Postingan ini disertakan dalam kontes 15 Hari Ngeblog FF2

Cerita diatas adalah bagian ke-4 dari sebuah Anthology Sasirangan, anda bisa membaca cerita sebelumnya disini:
Sasirangan Part #1 by Kang Dani
Sasirangan Part #2 by Sis Luna
Sasirangan Part #3 by Neng Selvi
Sasirangan Part #5 by Om Iwan

Advertisements

7 thoughts on “Sasirangan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s