Yakuza Moon

No: 044
Judul: Yakuza Moon
Penulis: Shoko Tendo
Penerbit: Gagas Media
Tgl Terbit: Cetakan ke-5, 2009
Ukuran:  252 hlm.; 14 x 20 cm
Tgl beli: 060612 di TB. Leksika KC
ISBN: 979-780-268-X
Rating:  4/5

Wow… ada Yakuza Moon di buku murah TB. Leksika KC.
Memang bukunya bagus?

Hehehe nggak tau lah, kan belum baca.
Lha terus kenapa dibeli?
Hah! Masih tanya kenapa? Ga liat covernya sekeren ini?

Yah… saya memang punya satu kelemahan soal buku, yaitu cover buku. Selama covernya itu indah, artistik, keren, wah, dsb. masalah isi jadi nomer sekian bagi saya. Seperti buku ini. Sebaliknya niat saya untuk membeli sebuah buku yg sudah lama ditunggu bisa lenyap begitu saja gara-gara covernya yg nggak banget.

Jadi mari kita bahas terlebih dahulu mengenai cover bukunya. Pada bagian belakang buku anda bisa melihat sosok sang penulis, Shoko Tendo. Apa pendapat anda? Cantik dan stylish sekali kan? Tapi tunggu sampai ia membuka bajunya. Pasti pikirannya langsung pada ngeres nih… bukan itu maksud saya. Saat Tendo membuka bajunya anda pasti akan terkejut dibuatnya, karena tubuh Tendo dipenuhi tato. Yah… sosok perempuan yg ada di sampul buku ini adalah sosok Tendo, sang penulis buku ini sendiri.

Sekarang perhatikan gambar tatonya. Artistik dan sangat indah. Buat sebagian orang tato adalah sesuatu hal yg tabu. Tapi bagi saya tato tetaplah sebuah karya seni, hanya medianya yg berbeda. Tapi klo ditanya, “Apakah anda ingin punya tato?” Emm… tunggu dulu, saya memang menikmati tato tapi bukan berarti saya ingin memilikinya. Ah… basi sekali saya.

Awalnya saya mengira buku ini adalah sebuah karya fiksi, ternyata saya salah. Buku ini adalah autobiografi dari Shoko Tendo. Seorang perempuan yg lahir dan besar di keluarga Yakuza. Kalau anda berfikir jadi Yakuza itu keren dan hebat, maka buku ini akan membuka mata anda. Menjadi Yakuza tidaklah sehebat sangkaan saya selama ini, meskipun hidup mereka bergelimang kemewahan bagi orang Jepang sendiri anggota Yakuza hanyalah warga kelas dua, orang buangan.

Tendo tumbuh dalam situasi penuh tekanan dari lingkungannya. Hinaan, cercaan dan perlakuan kasar dari teman sekelasnya jadi makanan sehari-hari. Kehidupan semakin sulit saat ayahnya harus masuk penjara dan mengalami kebangkrutan. Sifat ayahnya berubah drastis menjadi kasar dan suka mabuk-mabukan. Hal ini mendorong Tendo untuk memberontak dan memilih menjadi Yanki, berandalan yg mengecat rambutnya dengan warna putih, berdandan menor, nge-fly dengan menghirup thinner dan doyan kebut-kebutan dengan mobil balap yg dibuka knalpotnya.

Seperti lazimnya anak berandalan, ujung-ujungnya mereka akan terjerat pada narkoba dan seks bebas. Begitupun dengan Tendo yg pada akhirnya kecanduan dengan zat Amfetamin dan menjadi budak seks para lelaki. Tendo jatuh dari satu lelaki ke lelaki lainnya, sebagai wanita simpanan yg kadang memperlakukannya dengan sangat kejam.

Perubahan pada diri Tendo mulai terjadi saat ia memutuskan untuk mentato tubuhnya. Saat melihat Tendo, sang maestro menyarankan untuk mentato tubuh Tendo dengan sebuah gambar yg hebat.

“Ini Jigoku Dayu. Ia pelacur kelas atas di era Muromachi. Ia tokoh nyata, dan tinggal di Sakai sini. Para perempuan ini hidup di tempat-tempat pelacuran, bekerja sampai mereka bisa menebus diri mereka, atau menarik perhatian seorang tuan yg bisa membebaskan mereka. Itu kehidupan yg keras.” – p.149

Dan sosok Jigoku Dayu seolah-olah melebur dalam diri Tendo, meminjamkan sedikit kekuatannya.

“Ketika aku melihat tato indah itu, perasaanku dipenuhi oleh suka cita yg tak pernah kualami sebelumnya. Aku merasa seperti menemukan kebebasanku.” – p.151

Dalam karya pertamanya ini Tendo tampil dengan cerdas. Gaya berceritanya yg blak-blakan, jujur dan cenderung vulgar namun tidak lantas menjadi saru berhasil membuat saya ikut merasakan kerasnya, putus asa, perihnya luka, rasa sakit, kesedihan dan semangat yg dialami Tendo. Rangkaian kata demi kata tersusun dengan sangat apik, membuat saya enggan melepaskan buku ini sebelum menghabisinya. Meskipun saya merasa ada beberapa bagian yg tidak diceritakan dengan detil dan terkesan diperhalus, lebih dari cukup buat saya dan seperti kata Tendo, “Cukup bagiku jika Anda bisa menikmati apa yg kutuangkan disini dan menafsirkannya sekehendak Anda.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s