Indahnya Mencintai Karena Allah…

No: 045
Judul: Hafalan Shalat Delisa
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tgl Terbit: Cetakan ke-12, Oktober 2010
Ukuran:  270 hlm.; 20.5 x 13.5 cm
Tgl beli: pinjam @kaskus66
ISBN: 978-979-321-060-5
Rating:  3/5

Ini adalah novel Tere Liye yg pertama saya baca. Mengambil setting saat bencana tsunami melanda negri kita tercinta pada penghujung 2004 silam, tepatnya di Lhok Nga, Banda Aceh.

Novel ini dimulai dengan kisah sebuah keluarga yg sangat harmonis dan religius. Keluarga Abi Usman, Ummi dan keempat putrinya. Tokoh sentral dalam novel ini adalah Delisa, gadis kecil nan lucu berusia 6 tahun yg tengah sibuk menghapal bacaan shalat karena tak lama lagi ia akan menghadapai ujian di sekolahnya. Ada sebuah tradisi dalam keluarga bahagia ini, setiap putri yg lulus hapalan shalatnya akan diberikan sebuah hadiah. Ummi pun sudah menyiapkan hadiahnya, sebuah kalung emas berikut liontinya yg berbentuk huruf “D” dari kata Delisa.

Delisa yg masih berusia 6 tahun berjuang keras menghapalkan bacaan shalatnya. Dan saat hari ujian tiba Delisa telah siap dan dengan tertib menunggu namanya dipanggil oleh Ibu Guru Nur. Saat gilirannya semakin dekat, wajah Delisa memucat. Ia takut jika tiba-tiba lupa dengan bacaan shalatnya seperti Shubuh tadi. Ummi memberi semangat dan meyakinkan kalau Delisa pasti bisa. Akhirnya Delisa maju dengan hati mantap. Ya Allah Delisa siap shalat yg sempurna untuk pertama kalinya kepadaMu. Delisa mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir “Allaahu-akbar!”

Nun jauh disana, puluhan kilometer jauhnya dari tempat Delisa melaksanakan ujian prakteknya sebuah bencana terjadi dengan sangat cepat. Sebuah bencana besar yg meluluh lantakkan semuanya, meratakan kota Lhok Nga. Tanpa pernah disadari oleh Delisa yg tengah khusu mengerjakan shalatnya, bencana itu merenggut orang-orang yg dikasihi Delisa dan memutuskan hapalan shalat Delisa.

♥♥♥

Dengan gaya bercerita yg lugas dan apa adanya (nggak pakai bahasa tinggi) membuat saya lupa kalau tengah membaca sebuah novel, saya lebur ke dalam suasananya. Banyak cerita dalam buku ini yg sangat menyentuh perasaan dan membuat mata saya berkaca-kaca. Dua kali saya hampir menangis keduanya saat Delisa memeluk orang tuanya dan berkata: “Delisa cinta Ummi/Abi karena Allah.”

Banyak pelajaran yg bisa diambil dari buku ini, diantaranya adalah ketulusan, ketabahan dan keikhlasan dalam menerima semua ketentuan dari Allah.

Sebetulnya saya ingin memberikan 4 bintang untuk buku ini, tapi saya sangat terganggu dengan banyaknya footnote. Seakan-akan saya tengah membaca buku catatan Om Tere Liye bukan sedang membaca novel. Tolong ya om, lain kali kalau membuat sebuah novel, berikan footnote secukupnya saja itupun yg ada hubungannya dengan jalannya cerita, atau sekedar menjelaskan suatu kejadian. Untuk endingnya saya nggak banyak berkomentar, sedikit maksa sih tapi dramatis.

Pada akhirnya dengan semua kelebihan dan kekurangannya, buku ini menjadi wajib dibaca bagi mereka yg tengah mencari makna arti kehidupan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s