Setelah Malam Itu

No: 053
Judul Asli: After
Penulis: Amy Efaw
Penerjemah: Nina Andiana
Desain Sampul: Marcel A.W.
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: ke-1; September 2011
Ukuran:  456 hlm.; 20 cm
ISBN: 978-979-22-7565-0
Rating:  4/5

Devon Davenport adalah seorang siswi teladan sekaligus bintang sepak bola. Orang-orang mengenalnya sebagai pribadi yg dapat diandalkan, bertanggung jawab, pekerja keras dan dewasa.

Namun semua itu berubah total saat seseorang yg tengah berjalan-jalan bersama anjingnya menemukan sesosok bayi di dalam tong sampah diluar gedung apartemen Devon. Penyisiran polisi membawa mereka ke apartemen Devon, yg saat itu terbaring lemah di sofa. Kondisinya kritis karena kehilangan banyak darah. Polisi pun memastikan kalau bayi yg ditemukan di tong sampah itu adalah bayi Devon.

Devon harus menjadi pesakitan yg didakwa dengan percobaan pembunuhan. Ia harus menghadapi ketakutan terbesarnya dan di hadapkan pada fakta yg selama ini ia ingkari, bahwa dirinya hamil.

♥♥♥

“Bayi Tong Sampah” adalah sebuah fenomena yang ternyata sudah lama terjadi di Amerika. Hampir satu orang bayi setiap harinya di buang ke tong sampah. Tapi anehnya fenomena ini tidak pernah terekspos ke ruang publik, seakan-akan masyarakat di sana sengaja menutup mata akan kejadian ini.

Amy Efaw adalah seorang ibu dari lima orang anak, seorang soccer mom yg sangat luar biasa. Hatinya tergerak untuk menuliskan hal ini setelah ia mendengar berita di radio, pagi itu seorang polisi yg sedang tidak bertugas menemukan seorang bayi di tong sampah. Bayi itu selamat, seandainya saja polisi itu tiba 15 menit lebih lambat ceritanya akan menjadi lain.

Dalam menuliskan hal ini, Amy Efaw melakukan riset di Remann Hall Juvenile Detention Center di Tacoma, Washington. Hampir setiap hari ia pergi kesana untuk mengobservasi perilaku gadis-gadis yg tengah menjalani tahanan. Sebagai seorang ibu, Amy ingin mencari jawaban atas pertanyaan apa yang menyebabkan ibu-ibu muda itu tega membuang bayi mereka sendiri.

Buku setebal 456 hal ini ditulis dengan alur yg melompat-lompat antara masa kini dan kenangan Devon. Secara perlahan-lahan, Amy menggiring pembacanya untuk mengarungi pergulatan batin Devon dan terlibat secara emosional. Penyangkalan-peyangkalan Devon sempat membuat saya kesal. Tapi semakin ke belakang saya jadi lebih memahami. Berempati dengan Devon. Mungkin (pada beberapa kasus) saat seseorang  mendapatkan musibah yg sangat berat yg berpotensi melukai hati kita,  secara otomatis otak kita akan mengambil alih dengan memblok ingatan tersebut.

Contoh sederhananya adalah saat kita dengan tiba-tiba diputuskan sama pacar. Sedih, sakit hati dan kadang sampai depresi. Secara otomatis otak kita akan melindungi kita dan mengambil alih. Maka kita pun akan bertingkah dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, seolah semuanya baik-baik saja. In Denial bahasa kerennya. Hanya kebesaran hati dan ketulusan dari diri kita sendirilah yg akan membuat kita mampu menerima kejadian tersebut dengan ikhlas.

Sebagai seorang ibu dari seorang anak perempuan, saya merasa miris melihat pergaulan anak-anak remaja jaman sekarang. Sudah saatnya kita sebagai orang tua untuk lebih memperhatikan putra-putri kita, memperhatikan pergaulan mereka, melihat kembali siapa teman-teman mereka. Karena kita tidak akan pernah tahu apa yg terjadi saat mereka ada di luar rumah. Anak yg santun, bintang kelas dan pintar tidak bisa menjadi jaminan, kitalah sebagai orang tua yg harus pro aktif, mendekatkan diri kepada anak-anak kita mencoba menjadi orang tua sekaligus teman yg bisa mereka percayai.

Buku yg bagus tidak harus memiliki sampul yg cantik. Atau justru karena sampulnya yg biasa-biasa saja yg membuat buku ini kurang diminati yah? Saya lebih suka dengan versi aslinya, lebih menarik keingintahuan. Sosok seorang gadis yg tengah bersandar di dinding, tidak ada yg salah dengan gadis itu. Tapi saat kita perhatikan refleksinya di dinding, terlihat perutnya yg rata sedikit menonjol.

Apapun itu buku yg mendapatkan tiga nominasi award (Abe Lincoln, Gateway dan Peach) ini sangat saya rekomendasikan bagi remaja putra dan putri serta para orang tua. Karena banyak pelajaran berharga yg bisa kita ambil dari buku ini minimal kita menjadi lebih berhati-hati dalam bergaul.

Advertisements

3 thoughts on “Setelah Malam Itu

  1. Aleetha says:

    Baca sinopsis buku ini jadi ingat buku Go Ask Alice.
    Gelap ceritanya.
    Tapi tetap pengen baca. Yah seperti review yang mbak tulis, review lain juga bilang buku ini bagus.
    Semoga bisa secepatnya jadi penghuni rak bukuku.

    Salam kenal.
    Selamat bergabung di BBI 😉

    • dewiyani says:

      belum baca Go Ask Alice mbak, jadi penasaran nanti gogling dulu ah 😦
      saya beli buku ini karena tertarik baca sinopsisnya
      makasih ya mbak ally sudah di approve di grup BBI 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s