Venus: Duka Lara Si Anak Cantik

No: 058
Judul: Venus: Duka Lara Si Anak Cantik
Judul Asli: Beautiful Child
Penulis: Torey Hayden
Penerjemah: Ary Nilandari
Penerbit: Qanita
Genre: Non Fiksi – Psikologis
Tahun Terbit:
Cetakan 1, Juni 2004
Tebal:
612 hlm.; 17 cm.
ISBN:
979-3269-14-6
Rating:
4/5

Saya mengenal sosok Torey Hayden untuk pertama kalinya sekitar tahun 2005 melalui buku pertamanya yg berjudul Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil. Dari situlah awal kecintaan saya akan buku-buku yg mengandung muatan psikologis. Hmm… atau lebih tepatnya kecintaan saya terhadap Torey Hayden.

Victoria Lynn Hayden, atau lebih dikenal sebagai Torey L. Hayden (lahir 21 Mei 1951 di Livingston, Montana, AS), adalah seorang psikolog anak, guru pendidikan khusus, dosen universitas dan saat ini aktif menulis buku yg diangkat dari pengalaman pribadinya selama mengajar anak-anak berkebutuhan khusus. Spesialisasinya adalah autisme, sindrom tourette, pelecehan seksual, sindrom alkohol pada janin, dan sifat bisu elektif (sekarang disebut sifat bisu selektif).

Buku pertama Torey, One Child terbit tahun 1980 dan langsung menjadi best seller serta diterbitkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia. Di Indonesia buku-buku Torey diterbitkan oleh Penerbit Qanita, beberapa yg sudah diterjemahkan adalah: Sheila: Luka Hati Seorang Gadis Kecil, Mereka Bukan Anakku: Jalinan Kasih Yg Tersisih, Kevin: Belenggu Masa Lalu, Murid Istimewa: Jerit Lirih Seorang Sahabat, Jadie: Tangis Tanpa Suara, Sheila: Kenangan Yg Hilang, Venus: Duka Lara Si Anak Cantik dan Cassandra : Amarah Anak-Anak Sunyi.

Pada buku Venus: Duka Lara Si Anak Cantik, Torey berbagi kisahnya saat ia diberi kepercayaan untuk memegang sebuah kelas permanen yg berisi lima orang anak berkebutuhan khusus.

Billy Gomez, 9 thn, seorang anak berdarah Latin bukanlah anak baru bagi Torey karena ia pernah menangani Billy sebelumnya. Sayangnya usaha keras Torey saat itu sia-sia. Billy masih tetap meledak-ledak, hiperaktif, suka melawan dan tidak bisa mengerem mulutnya.

Meskipun menjengkelkan, namun saya merasa Billylah yg telah menghidupkan buku ini. Kemampuannya untuk menangkap kalimat secara apa adanya sering membuat saya tersenyum geli. Coba simak dialog dari halaman 23 berikut ini:

“Oh tidak! Jangan kamu!” dia berteriak dan menepuk jidatnya. Keras. Dia hampir terjengkang karena tamparannya sendiri. “Oh tidak. Tidak, tidak, tidak. Aku nggak mau ada disini. Aku nggak mau kamu.”
“Hai, Billy. Aku juga senang bertemu denganmu,” kataku. “Dan tahu nggak? Kamu orang pertama yang datang kesini. Jadi, kamu boleh memilih meja yang mana saja.”
“Kalau begitu aku pilih meja di kafetaria,” katanya dan segera melesat ke pintu.

Dari percakapan tersebut, Billy mengartikan meja kafetaria termasuk meja mana saja yg boleh dipilih.

Masih dari halaman 23 Billy memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut dan berusaha menarik. “Akan kucoba,” katanya dengan suara tidak jelas, “tapi kukira aku nggak bisa menarik lidahku cukup jauh agar bisa kuawasi.”
Billy melakukan itu setelah Torey menyuruhnya diam dengan mengatakan, “Kamu bisa mengawasi lidahmu demi aku, kan?”

Itu hanya sedikit contoh dari kelucuan-kelucuan yg ditimbulkan Billy.

Anak ke-2 dan ke-3 dalam gerombolan kecil Torey adalah 2 anak kembar berambut merah, Shane & Zane yg berusia 6 thn. Si kembar menderita FAS (Fetal Alcohol Syndrome) atau sindrom alkohol janin yg disebabkan oleh seorang ibu yg terlalu banyak mengonsumsi alkohol saat mengandung. Ciri khas dari penderita FAS adalah memiliki tubuh yg mungil laksana peri,  IQ dibawah rata-rata, hiperaktif dan sulit berkonsentrasi. Tapi jangan tertipu dengan fisiknya, Torey menggambarkan si kembar yg mirip boneka Howdy Doody ini seperti tokoh-tokoh dari film horror yg menjadi hidup untuk meneror kelasnya.

Yg keempat dalam gerombolan kecil Torey adalah Jesse, 8 tahun, penderita syndrome tourette yg menyebabkan kontraksi otot yg berulang-ulang dan tak terkendali. Selain itu Jesse juga sangat obsesif dengan kerapihan barang, hal ini menjadikannya anak yg sangat rewel dan pemilih.

Dan yg terakhir adalah Venus Fox. Tidak ada yg tahu apa yg salah pada diri Venus. Yg dilakukannya hanyalah diam dengan pandangan hampa seperti patung. Ia tidak pernah merespon rangsangan apapun. Tapi jika ada anak yg melanggar batas amannya, Venus langsung meledak, berubah liar dan menghajar habis-habisan anak tersebut.

Terhadap Venus, Torey mencoba melakukan pendekatan langsung, menjajagi berbagai kemungkinan. Mengajaknya berbicara, menyanyi, menyentuh, memangku sambil membacakan buku dan merangkulnya. Tanpa kenal lelah Torey terus berusaha memasuki dunia Venus. Lambat laun Venus mulai memberikan respon. Hanya sekilas cahaya kehidupan itu muncul di mata Venus sebelum ia kembali diam seperti patung. Tapi itu sudah cukup bagi Torey.

Tahun tersebut menjadi tahun terberat Torey. Lima anak bermasalah seperti belum cukup berat, ia masih harus menghadapi asistennya. Pada saat Torey membutuhkan semua dukungan yg ada, asistennya justru mengambil sikap bersebrangan dengannya. Namun Torey pantang menyerah, ia bersikukuh pada keyakinan dan tekadnya untuk membantu anak-anak tersebut.

Sekali lagi pendekatan dan wawasan Torey berhasil membuktikan kapasitasnya sebagai guru anak-anak berkebutuhan khusus sekaligus psikolog anak. Buku-bukunya sangat inspiratif dan wajib dibaca oleh siapa saja, khususnya bagi mereka yg terpanggil untuk menangani anak-anak dengan gangguan emosi.

Setelah membaca buku ini saya jadi berfikir, beruntung sekali ya anak-anak berkebutuhan khusus yg tinggal di Amerika. Kesejahteraan dan pendidikan mereka sangat diperhatikan oleh pemerintah. Tidak seperti disini, mereka hanya diperhatikan setelah ada media yg meliputnya. Itupun hanya untuk sesaat. Ujung-ujungnya mereka dianggap sebagai penyakit masyarakat.

Advertisements

2 thoughts on “Venus: Duka Lara Si Anak Cantik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s