Insiden Anjing

No: 051
Judul: Insiden Anjing Di Tengah Malam Yang Bikin Penasaran
Judul Asli: The Curious Incident of the Dog in the Night-Time
Penulis: Mark Haddon
Penerjemah: Hendarto Setiadi
Desain Sampul: Rully Susanto
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tgl Terbit: Cet. ke-2; Desember 2004
Ukuran:  viii + 312 hlm.; 13,5 x 20 cm
ISBN: 979-91-0017-8
Rating:  3/5

Apa yang ada di pikiran anda saat melihat sebuah buku berwarna shocking pink dengan judul “INSIDEN ANJING DI TENGAH MALAM YANG BIKIN PENASARAN?” Yang pasti sih penasaran, buku ini tentang apa sih? Kok sampul dengan judulnya ga matching babar blas. Simpan dulu rasa penasaran anda, sekarang mari kita lihat isinya. Ada yg aneh? Perhatikan judul babnya, buku ini dimulai langsung dari bab 2 lantas bab 3, bab 5, bab 7, dst.

Sebelum menyadari keunikan buku ini saya sempat mengumpat dalam hati pada penjual buku ini, “Asem ki! Diapusi karo sing dodol, buku ra beres cetakane kok didol!” Saya juga terus membolak-balik halaman demi halaman demi menemukan bab 1. Bagaimana anda sudah menemukan rahasia dibalik penomeran bab buku ini belum? Kalau sudah berarti anda termasuk orang yg pinter. Jika belum, kapasitas otak anda 11-12 dengan saya rupanya. Jadi marilah kita lanjutkan membaca buku ini apa adanya.

Aku mencabut garpu kebun dari badan anjing itu lalu membopong dan memeluknya,
darahnya menetes-netes dari lubang-lubang bekas garpu.
-p. 5

Christopher Boone, berusia 15 tahun, penyandang Sindrom Asperger menemukan Wellington, anjing tetangganya mati dibunuh pada suatu malam. Penasaran dengan kasus tersebut, Christopher memutuskan untuk menyelidiki siapa pembunuh Wellington dan akan membukukan penyelidikannya itu. Penyelidikan yg dilakukan Christopher tanpa sengaja telah membuka rahasia yg selama ini disembunyikan darinya. Memaksanya pergi jauh ke kota London seorang diri.

Sebagai penyandang Sindrom Asperger, Christopher memiliki cara pandang yg berbeda dengan orang kebanyakan. Ia memiliki perbendaharaan kata yg luas tapi mempunyai kesulitan dalam komunikasi, pola fikirnya kaku. Sangat menyukai hal-hal yg teratur dan terpola. Sangat cerdas, menyukai matematika dan punya ingatan fotografis. Seandainya anda dan Cristopher diperlihatkan suatu pemandangan alam pedesaan, maka informasi yg akan diperoleh kurang lebih seperti ini:

Anda (termasuk saya tentunya):

  1. Aku berdiri di tengah ladang yg penuh rumput.
  2. Ada beberapa ekor sapi di ladang-ladang sekitar.
  3. Langitnya cerah dan sedikit berawan.
  4. Ditengah rumput ada beberapa kuntum bunga.
  5. Di kejauhan ada sebuah desa.

Informasi yg diberikan cukup lengkap kan. Oh tapi tunggu sampai anda mendengar pendapat Cristopher:

  1. Di ladang itu ada 19 ekor sapi, 15 ekor di antaranya berbulu hitam dan putih dan 4 ekor lagi berbulu cokelat dan putih.
  2. Di kejauhan ada sebuah desa dan disana terlihat 31 rumah juga sebuah gereja dengan menara yg datar dan bukan yg runcing.
  3. Ada kantong plastik bekas milik Dinas Kebersihan setempat yg tersangkut di pagar-tanaman, dan kaleng coca-cola yg bekas diinjak, dan seutas tali panjang berwarna jingga
  4. Daftar ini masih akan terus berlanjut sampai angka 31.

Bagaimana, terasa sekali bedanya kan? Sebagai manusia normal kita hanya melihat apa yg ingin kita lihat, cenderung mengabaikan detil. Jadi bisa dibayangkan betapa lelahnya menjadi seorang Cristhoper, karena mau tak mau ia harus menyerap semua informasi yg dilihatnya.

Inilah kekuatan buku ini. Dengan pintarnya sang penulis menempatkan kita di balik kacamata sang penyandang sindrom Asperger. Seolah-olah kitalah penyandang sindrom tersebut. Saya bisa merasakan betapa frustasinya Christopher saat jadwal yg sudah ia buat terancam gagal dilaksanakan. Karena bagi orang-orang seperti Christopher, keteraturan adalah sesuatu hal yg tidak bisa ditawar-tawar.

Pada akhirnya siapa pembunuh Wellington tidaklah menjadi penting. Atau malah penting ya? Karena apa yg ingin disampaikan oleh buku ini bukanlah sebuah cerita detektif ala Sherlock Holmes tapi lebih untuk mengajak kita berempati, mencoba merasakan bagaimana seorang penyandang sindrom Asperger menjalani hidup. Jadi pada saat kita diberi kesempatan untuk bertemu dengan manusia istimewa ini, kita tidak lagi memandang sebelah mata kepada mereka. Karena mereka juga memiliki hati.

Ada beberapa topik dalam buku ini yg sengaja saya lewatkan. Bukan karena tidak menarik, tapi karena ada sangkut pautnya dengan kapasitas otak. Tentunya anda sudah bisa mengira tentang apakah itu?

Oh iya seharusnya saya memberikan 1 bintang tambahan untuk penerjemahnya, Bp. Hendarto Setiadi. Terjemahannya sangat bagus nggak abal-abal. Awalnya saya merasa aneh dengan bahasanya, bukan aneh yg nggak nyambung seperti kebanyakan terjemahan saat ini ya. Yg maen sikat dr Google transalte aja, tapi aneh karena bahasanya kaku sepertinya saat mau berbicara itu mulut seperti ditelakep (hadeh apa yah ditelakep itu?). Tanpa kesulitan saya bisa langsung menangkap apa yg ingin disampaikan oleh buku ini. Jangan lupa baca “Catatan Penerjemah” di bagian akhir buku ini.

—————————————————————————————————————————————————–
CATATAN:
Buku ini termasuk dalam daftar “1001 Books You Must Reads Before You Die”
Daftar selengkapnya bisa dilihat disini
—————————————————————————————————————————————————–

Advertisements