Mereka Yang Terusir Karena Iman

No: 030
Judul Asli: Maryam
Penulis: Okky Madasari
Desain Sampul: Restu Ratnaningtyas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Februari 2012
Ukuran: 280 hlm; 20 cm
Tgl beli: Pinjam dari @iwanhaaa @kaskus66
Rating:  4/5

Entah dengan anda, tapi buat saya cover buku itu adalah seni tersendiri. Seperti buku ini, desainnya sederhana ilustrasi seorang perempuan tengah menengadahkan kepalanya dan kedua tangannya menggenggam sebentuk rumah. Perhatikan ekspresi perempuan tersebut… wajahnya pucat pasi dan tatapan matanya menyiratkan kerinduan yg teramat dalam. Sudah itu saja. Yakin, gak ada yg ganjil? Coba perhatikan lagi covernya.

Ketemu! Ternyata ada tiga belah tangan yg terlihat. Nah lo… bukankah tangan perempuan tersebut tengah menggenggam rumah? Lantas tangan siapakah itu?

Berikut ini adalah penjelasan dari mbak Restu Ratnaningtyas, desainer covernya: “Tangan pegang rumah dan ada tangan lain yang memegang tangannya. Harapan akan rumah yang seakan digoyahkan oleh siapapun yang ingin menggoyahkan.”

Buku kedua karya Mbak Okky yg saya baca setelah Entrok. Masih ingin bermain-main di ranah politik rupanya. Kali ini mengangkat sebuah isu yg sensitif yaitu tentang Ahmadiyah.

Maryam, seorang perempuan yg menjadi Ahmadi sejak lahir seperti halnya anda yg beragama Islam karena ayah dan ibu anda seorang Islam. Atau menjadi Hindu karena anda lahir dari sebuah keluarga kecil di Bali. Mungkin… kalau bisa memilih, Maryam ingin seperti anda lahir dari sebuah keluarga yg agamanya diakui oleh negara. Sayangnya bukan Maryam yg menentukan dimana dia dilahirkan.

Lima tahun berlalu sejak Maryam memutuskan menentukan langkahnya sendiri, meninggalkan kampung halamannya, membuang agama dan keluarga yg telah membesarkannya sejak kecil. Memilih kata hatinya dan menikah dengan laki-laki yg diyakininya akan membuatnya bahagia, laki-laki yg bukan Ahmadi.

Kini Maryam kembali menginjakkan kakinya di desa Gerupuk, Lombok. Berharap mendapat pengampunan dan pengobatan atas luka hatinya. Tapi Lima tahun adalah waktu yg cukup untuk merubah segalanya. Maryam disambut oleh kenyataan yg sangat kejam, keluarganya telah diusir dari rumah mereka sendiri. Tanpa ada seorangpun yg tahu kemana perginya. Semua itu terjadi karena mereka berbeda dengan yg lainnya, karena mereka seorang Ahmadi.

Mungkin sebelum membaca buku ini saya tak ada bedanya dengan orang-orang yg dengan lantangnya berteriak: “Bakar… bakar… bakar!” Tapi melalui buku ini saya mencoba menempatkan diri saya dari sisi yg berbeda. Sejenak saya menjadi Ahmadi yg dengan bersusah payah memegang teguh keyakinan mereka. Merasakan kepedihan yg mereka rasakan saat ditolak dan diusir dari tanah mereka sendiri.

Melalui buku ini saya belajar untuk tidak menghakimi orang lain yg memiliki keyakinan yg berbeda dengan saya. Menjadi berbeda bukan berarti tak berhak hidup bukan? Memangnya siapa saya dan anda dimata Tuhan?

Seperti Entrok, buku ini kembali berhasil memikat saya untuk tidak berhenti sebelum menghabisinya. Alurnya bergulir dengan cepat dan melompat-lompat, tapi tidak membingungkan. Narasi yg tidak terlalu panjang sarat akan informasi yg sayang jika dilewatkan. Pemilihan font dan line spacing yg tepat membuat mata tidak cepat lelah.

Meskipun buku ini terkesan abu-abu karena Mbak Okky seakan-akan enggan memutuskan apakah aliran Ahmadiyah itu benar atau salah. Tetap saja buku ini menarik untuk dibaca bagi siappaun juga.

Hanya satu kekurangan yg saya rasakan dari buku ini. Apa itu Ahmadiyah? Mbak Okky tidak sedikitpun menjelaskan tentang aliran Ahmadiyah itu sendiri, baik melalui cerita, footnote atau lampiran di bagian belakang buku. Bagi orang awam mereka hanya akan memperoleh sedikit gambaran bahwa orang Ahmadi itu berbeda karena mereka eksklusif. So What! Apa salahnya menjadi eksklusif? Banyak restoran, cafe dan hotel yg juga memakainya.

Jadi ada baiknya kalau diberikan sedikit kutipan yg menjelaskan tentang aliran Ahmadi itu. Supaya saat selesai membaca buku ini orang menjadi lebih paham dan mengerti.

Kisah Tragis Di Balik Entrok

No: 024
Judul Asli: Entrok
Penulis: Okky Madasari
Desain Sampul: Restu Ratnaningtyas
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tgl Terbit: Cet. 1, April 2010
Ukuran:  288 hlm; 20 cm
Tgl beli: Pinjam di @kaskus66, @selebvi
Rating:  4/5

Entrok, novel pertama karya Okky Madasari yg mendapat apresiasi tinggi dari saya. Pemilihan cover yg apik, terbuat dari bahan bertekstur yg entah apa namanya, dengan efek glossy pada gambar entroknya seperti memberi penekanan akan isi buku ini. Sungguh sebuah cover yg dari jauhpun sudah berhasil mengundang minat untuk sekedar menyentuhnya. Hanya sayangnya kelemahan kertas cover jenis ini adalah mudah sekali meninggalkan jejak retak-retak (pecah) jika terlipat sedikit saja.

Penempatan bab terakhir pada awal cerita yg semula membingungkan jadi terasa masuk akal saat saya selesai membaca buku ini. Yg awalnya sempat berpikir, “iki piye tho, kok cerita ga nyambung ngene?” Jadi manggut-manggut sambil bergumam, “cerdas.”

Seharusnya dengan melihat gambar sampulnya kita langsung tahu yg dimaksud dengan entrok. Tapi jujur saya baru tahu kalau entrok itu adalah bh setelah membaca buku ini, karena dalam bahasa jawa yg saya pakai sehari-hari bh disebut kutang. Tapi jangan anda terjebak dengan sampulnya yg bergambar sepasang tangan tengah memasang atau melepas kaitan entrok kembang-kembang, lantas berpikir negatif oh pasti bukunya tentang esek-esek ini.

Tidak. Entrok hanyalah jadi sepenggal kisah pembuka cerita yg jauh lebih dalam dan bermakna. Melalui tokoh Sumarni, sang penulis mencoba menggambarkan perjuangan seorang wanita sederhana dan buta huruf untuk keluar dari belitan kemiskinan. Berawal dari keinginannya membeli sebuah entrok untuk menahan buah dadanya yg semakin berisi, Marni mau menjadi kuli panggul di pasar dengan upah sekeping atau dua keping rupiah, sebuah profesi yg tak lazim dijalani kaum wanita saat itu. Meskipun buta huruf dan tak makan sekolahan, Marni itu perempuan yg cerdas dan punya naluri bisnis kuat. Setelah sebuah entrok terbeli, sisa uang hasil ngulinya dibelikan barang dagangan di pasar yg dijual berkeliling desa. Sedikit demi sedikit usaha Marni semakin maju dan akhirnya Marni jadi orang paling kaya di Desa Singget.

Sayangnya seperti sudah lazimnya terjadi dimana ada “kere munggah bale” pasti ada omongan tak sedap di seputarnya. Begitupun dengan Marni, ia harus tahan digujingkan orang dituding tak beragama, memelihara tuyul, cari pesugihan dan gunjingan lain yg menyakitkan. Padahal kalau butuh duit mereka itu larinya ke siapa? Ya Marni tho. Belum lagi “aparat negara” yg dengan dalih uang keamanan, sumbangan, atau untuk kepentingan negara secara rutin minta setoran dari Marni. Daripada dicap PKI semua itu diiyakan saja olehnya dengan hati mrongkol.

Kalau saja Rahayu anak semata wayangnya tidak ikut-ikutan, Marni mungkin masih bisa menerima semua hinaan dan tindasan itu. Tapi Rahayu yg katanya anak kuliahan, guru dan aktivis agama di kampusnya malah ikut-ikutan menuduh ibunya seorang pendosa. Seharusnya sebagai orang yg berpendidikan tinggi tahu kalau Marni itu hanya orang buta huruf, yg tidak kenal Tuhan dari kecil. Mustinya metode yg digunakan adalah pendekatan secara pelan-pelan, sedikit demi sedikit. Bukannya malah terang-terangan menjadikan Marni sebagai musuhnya.

Membaca buku ini sungguh membuat perasaan pegel, trenyuh dan teriris-iris. Meskipun Marni adalah seorang rentenir, saya justru lebih menyukai sosoknya yg sederhana ketimbang memilih Rahayu anaknya yg katanya pinter tapi sok beragama itu. Buat saya sah-sah saja kalau Marni menyembah Mbah Ibu Bumi, ya karena hanya itu yg dia kenal dari kecil. Kalau mau dipikirkan lebih lama sebetulnya yg dimaksud Mbah Ibu Bumi itu tak lain dan tak bukan ya Gusti Allah. Hanya perwujudannya yg berbeda. Saya juga tak meyalahkan Marni yg membungakan uang, ya wajar tho namanya usaha kalau ngambil untung (bunganya yg ketinggian kali ya).

Dengan sangat cerdas, sang penulis memaparkan konflik antara ibu dan anak yg diramu dengan polesan rejim orde baru. Tak sedikit peristiwa besar yg disinggung disini (meskipun tidak diulas lebih jauh) misalkan saja pemboman Candi Borobudur, Cap PKI, Waduk Kedung Ombo, Coblos No. 2, dsb. Sebuah karya sastra dengan rentang waktu panjang (1950-1994) yg mampu membuka mata saya dengan situasi dan kondisi yg sesungguhnya terjadi pada saat itu. Sebuah kritik sosial yg masih malu-malu menunjukkan taringnya. Apapun itu sungguh ini adalah sebuah karya sastra yg pantas dibaca oleh siapapun juga.