Jangan Panggil Aku Kitty

Dekut Burung Kukuk

No: 077
Judul : Jangan Panggil Aku Kitty: Cinta Tanpa Batas Dunia
Pengarang : Samsaimo Paramina
Penerbit : Flash Books
Tahun Terbit : Cet. 1; Maret 2013
Tebal Buku :
Genre : Fiksi Romantis
Rating : 2/5

“Sekarang, aku bukan milik siapa-siapa. Kuhirup udara kebebasan, begitu segar aromanya. Kapan aku harus pergi, berdiam diri, makan, bercengkerama, bercanda, atau bertualang.”

Kitty memutuskan pergi dari rumah Mbak Dinik setelah melihat seekor kucing ras yang menggantikannya. Tekadnya sudah bulat untuk hidup liar dan bertualang. Ia pun mengganti namanya menjadi Hitam, seperti warna bulunya. Karena menurut dia, nama Kitty hanya pantas untuk kucing kecil nan imut.

Kehidupan liar yang keras membuat Hitam harus bersitegang dengan kucing lain untuk berebut makanan dan daerah kekuasaan. Hingga akhirnya, ia berteman dengan empat ekor kucing penghuni Pasar Nongko. Sayangnya, Pasar Nongko akan direnovasi, sehingga para tikus mulai pergi. Hitam dan teman-temannya kesulitan berburu tikus.

Bagaimana petualangan Hitam selengkapnya? Mampukah ia bertahan dalam kerasnya kehidupan liar?

Itulah sepenggal kisah dalam buku ini yg saya lupa tepatnya dimana saya memperoleh buku ini. Sewaktu segel buku ini masih utuh, saya suka memandangi covernya. Perpaduan warnanya yg lembut plus gambar kucing item nan imut *mana ada kucing item imut* membuat saya penasaran dan pengen cepat-cepat baca buku ini. Sudah lama nggak baca fabel semacam Si Kancil kangen juga rasanya. Sampai disini saya masih berpikir jika buku ini adalah fabel.

Fabel : adalah dongeng tentang binatang yg bisa berbicara dan bertingkah laku seperti manusia. Umumnya fabel digunakan sebagai lambang pengajaran moral dan budi pekerti. Jadi fabel adalah cerita yang menggunakan hewan sebagai tokoh utamanya.

Ternyata oh ternyata saya salah *plakkkkk geplak diri sendiri* buku ini bukan fabel tapi lebih tepat disebut cat romans atau kisah percintaan kucing *shock.* Bisa dibilang ini buku kipas-kipasnya para kucing, semacam Fifty Shades of Grey gitu lah *gubrak.*

Buku ini mengambil sudut pandang seekor kucing rumahan yg memutuskan meliarkan diri. Sebagai pembaca, anda akan diajak merasai kejamnya ibukota eh kejamnya Pasar Nongko untuk berebut makanan dan daerah kekuasaan. Dengan Pukulan Sinar Mataharinya, Kitty berhasil menggulingkan penguasa Pasar Nongko yg bengis dan kejam, Si Belang. Kitty dipuja-puja dan dihormati oleh kawan sesama kucingnya. Bersama 3 ato 4 *maaf saya lupa* pejantan tanggung lainnya yg senasib sepenanggungan, Si Kitty kemudian membentuk boyband Kucing Junior yg popularitasnya segera mengalahkan Coboy Junior. Berdasarkan rapat anggota telah ditetapkan jika Pasar Nongko adalah home base mereka. Saat malam menjelang mereka berpencar mencari buruan masing-masing. Pertama-tama mereka akan mencari tikus-tikus kecil sebagai pengisi perut. Setelah urusan perut selesai, giliran para betina untuk dikunjungi. Bagi yg belum memiliki pacar biasanya memilih kembali ke markas dan menunggu yg lainnya pulang. Siang harinya mereka habiskan dengan tidur mendengkur di atap seng Pasar Nongko.

Argh… saya lupa dengan ending cerita buku ini, apakah Si Kitty kembali menjadi kucing rumahan atau tetap hidup liar di jalanan. Saya merasa sedikit kurang nyaman dan jengah saat membaca buku ini, agak terlalu vulgar atau karena apa saya lupa tepatnya *padahal baca FSOG aja tenang-tenang aja.* Ada beberapa bagian dalam buku ini yg saya rasakan “nggak kucing banget sih.” Mungkin karena saya merasa ini bukan fabel, tapi Si Penulis sedikit terlalu berlebihan dalam memanusiakan si Kucing. Jadi untuk kali ini cukup 2 bintang untuk buku ini.