Carrie oh Carrie

Abarat

No: 073
Judul: Carrie
Pengarang: Stephen Kings
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cet. 1; Oktober 2013
Ukuran Buku: 256 hlm; 20 cm
ISBN: 978-979-22-9951-9
Genre: Horror
Rating: 3/5

Ketertarikan saya membaca buku ini berawal dari film The Rage: Carrie 2 yg sempat saya lihat +/- 12 tahun yg lalu. Adanya sedikit kesamaan cerita membuat saya penasaran apakah ini cerita yg sama. Ternyata film yg pernah saya lihat beberapa tahun lalu itu adalah sequel dari film yg berjudul Carrie dan meskipun masih memiliki benang merah keduanya menawarkan cerita yg berbeda.

Yesus memperhatikan dari dinding;
Namun dingin wajahnya bagai batu,
Dan kalau Yesus mencintaiku
Seperti yg dia bilang
Mengapa aku merasa sendirian?

Sosok Carrietta N. White atau biasa disapa Carrie sebetulnya tidak jelak. Memang dia digambarkan gemuk, pendek dan jerawatan tapi bukankah rata-rata anak remaja seperti itu. Yg membuat Carrie berbeda adalah sifatnya yg pemalu, kuper dan cenderung aneh. Karena hal inilah Carrie sering jadi bahan olok-olok di sekolahnya.

Selain jadi bullying di sekolahnya, Carrie juga menjadi korban mentally and physically abused di rumahnya. Margaret White, ibu Carrie, adalah penganut Baptis yg taat tetapi keluar dari agamanya karena ia yakin para pemeluk Baptis adalah kaum Antikristus. Ia pun memilih beribadah di rumah menurut caranya sendiri. Fanatisme yg keliru terhadap agama membuat Margaret menganggap Carrie adalah anak setan yg dikirim Tuhan karena dia telah melakukan perbuatan dosa. Kegilaan Margaret mencapai puncaknya setelah Carrie mendapatkan menstruasi untuk pertama kalinya. Margaret menganggap Carrie telah berubah menjadi perempuan lemah yg jahat dan penuh dosa. Akhirnya Margaret memutuskan untuk melakukan apa yg seharusnya ia lakukan dari dulu.

Sebenarnya, Carrie hanya ingin menjadi anak normal seperti teman-temannya. Tapi ia terpaksa menuruti kemauan ibunya karena takut. Puncak ketakutan Carrie meledak saat ia mendapat menstruasi pertamanya. Ketidaktahuan Carrie akan konsep menstruasi membuatnya berpikir bahwa ia mengalami pendarahan dan akan segera mati. Bukannya membantu, teman-teman Carrie malah mentertawakan dan merekam kejadian tersebut. Mereka melempari Carrie dengan tampon atau pembalut. Tiba-tiba pipa air di dalam toilet perempuan pecah. Tanpa disadari kekuatan yg lama terpendam di dalam diri Carrie mulai berkembang. Carrie mampu menggerakkan benda-benda disekelilingnya hanya dengan kekuatan pikiran.

Ledakan kekuatan Carrie terjadi saat malam “Prom Nite.” Carrie yg dinobatkan sebagai Queen of Prom Nite dan diminta naik ke panggung sekali lagi dipermalukan oleh teman-temannya. Seember darah babi kental jatuh menyiram dirinya dan rekaman video kejadian di toilet perempuan diputar ulang di layar besar di belakangnya.  Batas kesabaran Carrie habis sudah, ia memutuskan untuk balas dendam kepada semua orang yg telah membuatnya menderita.

Buat saya pribadi buku ini termasuk buku yg sulit dinikmati.

Pemilihan alur yg maju mundur dan teknik penulisan yg tidak biasa membuat saya cukup kesulitan membaca buku ini. Sebagian besar buku ini ditulis dengan teknik epistolary structure, yaitu suatu teknik penulisan yg menggabungkan beberapa elemen sekaligus. Dalam buku ini elemen tersebut diambil dari artikel koran, buku tulisan Snue Snell, kliping koran, jurnal ilmiah, buku catatan sekolah, dll.

Selama membaca buku ini saya merasa seperti membaca berita yg dipotong-potong. Ditambah lagi kwalitas terjemahan buku ini kurang bagus. Cukup memusingkan bagi saya yg tidak terbiasa.

Banyak pelajaran yg bisa saya ambil dari buku ini diantaranya:

  1. Saya harus menjelaskan kepada anak perempuan saya konsep menstruasi saat ia sudah cukup umur. Supaya kejadian Carrie tidak menimpa pada anak saya.
  2. Dalam mempelajari agama, kita harus didampingi oleh guru yg ngerti betul tentang agama. Jika tidak kita bisa tersesat bahkan jadi gila.

Akhir cerita ditutup dengan cuplikan surat yg meninggalkan celah untuk penulisan buku selanjutnya. Sebuah cerita yg sudah saya tonton filmnya. The Rage: Carrie 2.