Jika Moral Dipertanyakan!

No: 067
Judul : Misteri Dua Cinta Di Dalam Satu
Pengarang: V. Lestari
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul: Iwan Mangopang
Tahun Terbit : November 201o
Genre Buku: Fiksi – Thriller & Suspense
Ukuran Buku: 504 hlm; 18 cm
ISBN: 9789792281361
Tgl. Beli: 06 April 2013
Rating: 2/5

Setelah cukup lama mati suri, event Bubarkan Serapium perlahan mulai bangkit lagi. Berdasarkan hasil kasak kusuk ditetapkanlah tema untuk Bulan April adalah V. Lestari. Jadi selama bulan April silahkan membaca buku karya V. Lestari, tidak ada ketentuan buku yg harus dibaca yg penting karya V. Lestari jika sudah selesai silahkan posting reviewnya di blog masing-masing.

Buku pilihan saya adalah Misteri Dua Cinta Di Dalam Satu.

Sembilan jam setelah kematiannya, jasad Arie yg masih disemayamkan di rumah duka tiba-tiba menunjukkan tanda-tanda kehidupan! Setelah dipindahkan ke rumah sakit, ia dinyatakan hidup tetapi mengalami koma. Dua hari kemudian, ia sadar sepenuhnya. Statusnya kini berubah dari korban pembunuhan jadi korban percobaan pembunuhan.

Tubuh Arie ditemukan di sebuah selokan yg cukup jauh dari rumahnya. Dugaan sementara ia menjadi korban perampokan. Tapi saat Arie sadar dan bisa ditanyai, ia tidak bisa mengingat apa yg dilakukannya di daerah tersebut. Seingatnya malam kejadian tersebut, ia tengah bercinta dengan istrinya, Erwina. Sementara kesaksian Erwina, malam itu selesai mereka bercinta Arie bergegas pergi meninggalkan rumah tanpa pamit, seperti kebiasaannya.

Mungkin mati suri adalah sebuah fenomena yg sudah biasa terjadi, tapi sembilan jam dianggap terlalu lama. Banyak orang yg penasaran dengan fenomena ini dan berusaha mengorek berita dari mulut Arie. Sayangnya Arie tidak bisa menjelaskan apa yg terjadi selama sembilan jam tersebut. Semuanya gelap, satu hal yg ia sadari ia tidak kembali seorang diri. Ada jiwa lain yg menempel dan ikut kembali ke dunia. Jiwa lain yg pernah berbagi cinta yg sama.

Semula saya mengira buku ini akan mengambil tema dunia ghaib, sebuah tema yg cukup menarik perhatian saya. Bukan karena kleniknya ya… tapi lebih karena keingin tahuan saya tentang hidup setelah mati. Sayangnya saya salah, tema yg diambil tidak jauh-jauh dari pasal cinta segi tiga dengan bumbu dendam kesumat. Tidak ada hal-hal ghaib ataupun mistik didalamnya meskipun sinopsisnya menjanjikan sebuah kengerian dengan adanya jiwa lain yg telah mati ikut kembali ke dunia.

Tokoh utama di dalam buku ini adalah Arie, Erwina dan Benny. Arie digambarkan sebagai sosok suami yg sempurna, penuh perhatian dan penuh cinta terhadap istrinya. Sedangkan Erwina adalah sosok istri yg ideal, cantik jelita dan sedikit manja. Namun karena pengkhianatan yg dilakukan oleh suaminya, Erwina berubah menjadi dingin, acuh dan judes. Benny adalah sosok antagonis di dalam buku ini, musuh di dalam selimut. Seorang laki-laki yg egois, pencemburu, pendendam dan sadis.

Dengan mengambil sudut pandang orang ketiga dan alur yg cenderung maju membuat saya cukup menikmati novel ini. Gaya penulisannya juga tidak njlimet dan langsung pada tujuan. Sayangnya bagi sebagian orang yg baru pertama kali membaca karya V. Lestari dan terbiasa membaca buku-buku yg sulit, gaya penulisan V. Lestari ini sedikit mengecewakan. Dialognya miskin, datar dan kurang bisa menangkap emosi tokoh-tokohnya.

Saran saya, saat membaca buku ini buang jauh-jauh logika anda. Kalau tidak anda tidak akan menikmati buku ini. Sembilan jam mati suri, tidak ada pasokan oksigen di dalam darah tapi tidak ada kerusakan organ yg cukup berarti. Pun jangan perturutkan moral anda karena hanya akan membuat anda gondok. Erwina yg semula sangat terhina akan perlakuan suaminya yg telah merendahkan dirinya, pada akhirnya tak lebih dari seorang perempuan yg munafik dan ingin cari selamat sendiri.

Sebetulnya buku ini memiliki sebuah pesan moral bahwa bau busuk yg disembunyikan dengan sangat rapi pada akhirnya akan tercium juga. Pada akhirnya kebaikan selalu menang atas kejahatan. Sayangnya seperti judul review saya, Jika Moral Dipertanyakan. Sayapun turut mempertanyakan kemana moral dalam cerita ini? Karena saya melihat Arie dan Erwina, dua tokoh utama dalam buku ini tidak memilikinya.

Semula saya ingin memberikan tiga bintang untuk buku ini, tapi karena eksekusinya yg mengecewakan saya rasa dua bintang sudah bagus.

Advertisements