Memory and Destiny

No: 056
Judul: Memory and Destiny
Penulis: Yunisa KD
Editor: Hetih Rusli
Co-editor: Raya Fitrah
Foto Sampul: Jose A.S. Reyes
Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
Lini: Amore
Tebal: 264 hlm; 18 cm
Cetakan: Ke-1 April 2010
ISBN: 978-979-22-5658
Rating: 1/5

Alasan saya membaca buku ini bisa jadi sama dengan yg lainnya, karena penasaran setengah hati. Ada apa sih di buku kecil berwarna biru ini kok sampai segitu hebohnya. Jadilah saya beranikan diri meminjam buku biru milik bu dokter yg saat itu tengah dipegang oleh mbak Oky.

Apakah teman khayalan itu benar-benar ada? Maroon Winata, gadis kecil berusia 10 tahun itu percaya karena ia punya satu. Laki-laki bertubuh tinggi tegap dan berwajah tampan bernama Donald Basuki. Yg tidak Maroon ketahui, teman khayalannya adalah arwah gentayangan seorang laki-laki yg koma setelah mengalami kecelakaan fatal.

Beberapa tahun kemudian destiny mempertemukan mereka, Maroon yg telah dewasa dan Donald yg kembali dari tidur panjangnya. Sayang destiny masih ingin bermain-main dengan mereka untuk beberapa waktu. Akankah Maroon & Donald bisa bersatu?

Apa yg saya rasakan setelah membaca buku ini? Lelah luar biasa.

Dari awal saya juga sudah mengira klo buku ini nggak bakalan asyik buat saya, karena metropop bukanlah genre yg saya sukai. Apalagi buku ini telah menuai puluhan kritik di GRI. Tapi sebelum membaca buku ini saya mencoba bersikap netral, bukannya mau nggaya tapi saya menganut paham coba sendiri, buktikan dan rasakan!

Alhasil saya langsung kejengkang sejak paragraf pertama buku ini. Jeduk-jeduk… arghhh tolong hentikan saya sekarang juga sebelum saya tersesat lebih jauh. Sayang suami saya bukanlah pecinta buku jadi dia biarkan saja saya megap-megap kesrimpet dalam destiny. Mbok ya dikasih CPR gitu ya…

Sudah ah… mari sedikit serius.

Kita mulai dari depan ya… dari covernya. Sebetulnya sampul buku ini bisa menjadi favorit saya karena biru adalah warna kesukaan saya. Sayangnya saya menganut paham sampul tanpa wajah. Maksudnya saya nggak suka jika covernya pakai foto yg menampakkan wajah seseorang dengan jelas, karena saya lebih suka memainkan imajinasi saya sendiri. Sabodo teuing ah klo penulisnya berulang kali menekankan Ken/Rhett + Phantom = Ken/Phantom = kakak ini. Buat saya mah Ken/Rhett dipasangin topeng Phantom = Jhonny Depp arghhh so sekseh… mendesah frustasi sambil ngeces ces… cess… cesss…

Bagi orang lain masalah cover adalah urusan kesekian, tapi sampai saat ini saya masih bertahan untuk tidak membeli buku Dark Lover padahal itu adalah buku kesukaan saya, masih ngarep keluar edisi cetak ulang dengan cover yg berbeda. Jadi cover buku adalah penting buat saya. Lantas ada gerutuan yg mengatakan, sebentar saya lupa karena lagi ndak prima otak saya… eng… apa ya? Susah nih tetap saja ndak ingat mungkin terkena amnesia mendadak sayanya. Intinya sih merasa keberatan klo ngomongin soal cover buku. Lha! Bukannya sampul buku dengan buku itu sendiri adalah satu kesatuan, klo nggak suka sampulnya dinyinyirin ya udah sobek aja sampulnya jual tanpa sampul. Beres dah… *langsung ditoyor teman yg nyari makan lewat sampul buku*.

“Don’t Judge a Book by Its Cover” 

Ok marilah kita telanjangi buku biru ini meskipun agak sulit karena hampir semua sisi buku ini sudah diungkap reviewer andal di GRI.

Selama membaca buku ini saya merasa alur cerita berjalan sangat cepat sehingga perpindahan waktunya terasa kasar. Kalimat-kalimatnya sangat WOW dan terkesan dipaksakan untuk ada. Kesan saya penulis ingin menunjukkan kepintarannya melalui rangkaian kalimat yg mbulet dan berusaha melucu melalui cuplikan lagu kanak-kanak yg membuat saya ingin menangis darah. Banyaknya typo juga cukup mengganggu (lebih jelasnya bisa dilihat review mas Ijul dari GRI) padahal buku ini punya editor dan co-editor loh. Zuperrr sekali.

Kalau ingin menanggapi soal pemakaian bahasa Inggris atau konten yg berhubungan dengan dunia medis, kok rasanya saya nggak punya kapasitas disitu ya. Kalo gitu saya ngulik soal mak comblang aja deh, profesi yg pernah saya tekuni dahulu kala #plakkk. Sebagai comblang saya juga pasti ngewes seperti Sharon, ngejual dagangan saya bahkan jika perlu dilebih-lebihkan dikit hahahaha… Kalau saya nih ya, asal udah ngucap niat ingsun dadi comblang maka saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menyatukan mereka. Mempertemukan mereka minimal kasih liat fotonya deh. Kan ada pepatah yg bilang dari mata turun ke hati, sayangnya kok hal ini nggak terlintas di otak Sharon ya.

Destiny oh destiny…

Eh tahu nggak saya suka liat FTV lho, tertunduk malu lantas ngumpet di goa. Tapi saya akan segera ganti channel TV sambil misuh-misuh saat tema yg diangkat adalah amnesia. Basi!!! Klo soal cinta segitiga dengan pemeran pelengkap penderita masih bisa saya terima asal nggak over. Belum lagi banyaknya kebetulan yg mau tak mau membuat saya menarik kesimpulan oh ternyata Jakarta+Singapura+London = Ciputat. Luasnya cuma seuprit jadi wajar saja klo dalam bilangan tahun anda akan bertemu lagi dengan orang yg sama.

Ah sudahlah klo dituruti bisa melebar kemana-mana nih maklum emak-emak klo udah menghina dina suka lupa nginjek tanah. Ringkasnya buku ini adalah sebuah buku yg berisi kisah cinta segitiga dengan bumbu amnesia. Saya tidak berani merekomendasikan buku ini kepada siapapun, karena saya nggak mau disumpahin. Tapi kalau anda memaksa ya silahkan saja baca buku ini.

Advertisements