Tuhan, ijinkan aku menjadi pelacur!

No: 001
Judul Asli: Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur!
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent, Cet. ke-13, Juli 2008
Tebal: 264 halaman, 12 x 19 cm
Tgl. Beli: 09 Maret 2009, @ TB. Gramedia Pasar Baru

Sebetulnya buku ini bukanlah buku baru, kalau tidak salah ingat diterbitkan pertama kali tahun 2002. Buku ini sempat mengundang pro dan kontra yg cukup hebat pada awal peluncurannya. Bahkan penulisnya sempat dihujat dan dianggap sesat dan kafir. Setiap review yang saya baca tak kurang pasti mencantumkan embel-embel, “Jangan membaca buku ini bila iman anda belum kuat”

Bermula dari sanalah saya terus berusaha mencari buku ini. Setiap mampir ke toko buku iseng-iseng saya tanya tentang buku ini tetapi hasilnya nol. Hingga suatu saat ketika saya sedang ikut mas Sidik *lebih tepatnya ngrusui* ke daerah Pasar Baru, saya mampir ke Gramedia Pasar Baru. Tepat di belakang kasir dan hampir tidak terlihat berjejer dengan manisnya buku yang selama ini saya cari-cari. Tanpa pikir panjang langsung saya ambil buku ini untuk dibawa pulang.

Jadi apa sih isinya?

Buku ini berkisah tentang pencarian Nidah Kirani akan Tuhan. Nidah Kirani adalah seorang muslimah yg taat, dia memilih cara hidup yg sufistik demi ghirah kezuhudannya. Cita-citanya hanya satu yaitu menjadi seorang muslim yg menjalankan syariat Islam dengan kaffah.

Pencarian Nidah Kirani membawanya ke berbagai pengajian dan organisasi. Sayangnya sebuah organisasi garis keras telah memupus harapan Nidah. Organisasi yg selama ini diharapkan dapat menjadi jembatan pencapaian tertinggi Nidah, ternyata tidak memberikan jawaban yg dicarinya. Nidahpun bingung dan limbung. Merasa kecewa dengan Tuhan, Nidah Kirani pun melancarkan protesnya. Ia menjual imannya kepada iblis. Obat-obatan terlarang bahkan free sex dijalaninya dengan sadar hati. Ia seolah-olah ingin berteriak kepada, “Lihatlah aku Tuhan.”

Sebetulnya, tema buku ini biasa saja. Tentang seseorang yg sangat mendambakan sesuatu tapi kenyataan yg ditemui jauh dari harapan. Kecewa lantas melarikan diri ke jalan yg salah. Tapi pemilihan judul yg menggelitik telah berhasil mengangkat pamor buku ini.

Mengapa buku ini menjadi kontroversi? Selain karena judulnya, setting yg mengambil berbagai lokasi di kota jogja (universitas, pondok pesantren, organisasi) dianggap mencemarkan nama baik mereka. Menelanjangi kebobrokan yg ada dalam sebuah organisasi. Ga perlu diributkan sih sebetulnya, karena saya saja yg besar di Jogja hanya bisa menebak-nebak, kira-kira universitas apa ya… oh pengajian itu taunya, dsb. Dan soal organisasi bukankah memang begitu adanya? Banyak organisasi yg menyerukan jihad… jihad… dan jihad… tapi itu hanyalah sebuah kedok belaka.

Yg menjadi sorotan saya selanjutnya adalah gaya penulisan. Sangat apa adanya, blak-blakan bahkan bisa dibilang vulgar. Saya bisa merasakan kemarahan, mungkin agak sedikit over tapi nyata. Ya memang begitulah keadaanya 😀

Secara keseluruhan, saya merasa ini adalah sebuah buku yg cukup bagus. Namun tidak disarankan untuk dibaca tanpa bimbingan karena logika-logika yg ada dalam buku ini bisa sangat menyesatkan. Berdiskusilah setelah membacanya.