Perempuan Di Titik Nol

No: 032
Judul Asli: Women at Point Zero
Penulis: Nawal el-Saadawi
Penerjemah : Amir Sutaaraga
Desain Sampul: Ipong Purnama Sidhi
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tgl Terbit: Cet. 5, Februari 2000
Ukuran: xiv + 156 hlm; 17 cm
Tgl beli: 31 Mei 2012 di FJB Kaskus
Rating:  4/5

Literatur dari negeri Arab yg pernah saya baca bisa dihitung dengan jari tangan. Itupun terbatas pada kisah dongeng 1001 Malam dimana ceritanya selalu berakhir dengan bahagia.

Sayangnya kehidupan ini bukanlah dongeng. Setidaknya bagi Firdaus. Dari balik jeruji besi mengalirlah kisah Firdaus, seorang pelacur yg tengah menanti hukuman gantung yg akan segera di jalaninya karena telah membunuh germonya sendiri.

“Saya bukan pelacur. Tetapi sejak semula ayah, paman, suami saya, mereka semua, mengajarkan untuk menjadi dewasa sebagai pelacur.”

Sejak kecil Firdaus telah dihadapkan pada kenyataan hidup yg pahit. Terlahir sebagai anak perempuan dari keluarga yg miskin Firdaus terbiasa menyaksikan perlakuan kasar ayahnya kepada ibunya. Dan setelah puas memukul, ayahnya akan memaksa ibunya untuk melayaninya, memuaskan nafsu birahinya. Firdaus sendiri sejak kecil sering mendapatkan pelecehan seksual dari pamannya. Jika suasana sedang sepi, pamannya akan meremas-remas paha Firdaus. Padahal pamannya adalah seorang yg terpelajar.

Setelah ayah dan ibunya meninggal, Firdaus tinggal bersama paman dan bibinya. Keberadaan Firdaus dirasa menyusahkan dan hanya menambah beban saja. Akhirnya Firdaus dinikahkan dengan seorang tua dan kaya raya. Alih-alih mendapatkan suami yg bisa mengayominya, Syekh Mahmoud suami Firdaus orang yg sangat rakus dan pelit. Hampir semua pengeluaran dihitung dengan cermat, dan jika ketahuan Firdaus menghamburkan makanan atau uang tak pelak lagi cacian dan pukulan akan mendarat di mukanya.

“Pada suatu peristiwa dia memukul seluruh badan saya dengan sepatunya. Muka dan badan saya menjadi bengkak dan memar. Lalu saya tinggalkan rumah dan pergi ke rumah paman. Tetapi paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukul istrinya, dan istrinya menambahkan bahwa suaminya pun seringkali memukulnya. Saya katakan, bahwa paman adalah seorang syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak mungkin memiliki kebiasaan memukul istrinya. Dia menjawab, bahwa justru laki-laki yg memahami agama itulah yg suka memukul istrinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang istri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewajibannya ialah kepatuhan yang sempurna.” – p. 63

Sampai disini saya merasa muak dan geram dengan para lelaki dalam buku ini. Di satu sisi mereka digambarkan sebagai lelaki yg sangat tekun beribadah, namun di sisi lain mereka tak ubahnya seperti binatang yg tak punya nurani. Mencari pembenaran atas perbuatannya dengan berlindung di balik agama.

Karena tidak tahan dengan perlakuan kasar suaminya, Firdaus mengemasi barang-barangnya dan minggat ke jalanan. Disana ia bertemu dengan Bayoumi, yg berjanji akan membantunya mencari pekerjaan namun malah menjadikannya pelacur. Demikianlah hidup Firdaus, jatuh dari satu lelaki ke lelaki yg lain. Pengalaman hidupnya yg pahit, telah membuat Firdaus menjadi pribadi yg kuat, keras dan mandiri. Pada akhirnya ia memutuskan bahwa hanya dirinyalah yg memiliki kuasa atas tubuh dan pikirannya. Ia memasang tarif yg sangat tinggi dan memutuskan siapa yg boleh menidurinya dan siapa yg tidak. Hal ini membuatnya jadi pelacur berkelas dan banyak dicari.

“Seorang pelacur yang sukses lebih baik dari seorang suci yang sesat. Semua perempuan adalah korban penipuan. Lelaki memaksakan penipuan pada perempuan, dan kemudian menghukum mereka karena telah tertipu, menindas mereka ke tingkat terbawah, dan menghukum mereka karena telah jatuh begitu rendah, mengikat mereka dalam perkawainan, dan menghukum mereka dengan kerja kasar sepanjang umur mereka, atau menghantam mereka dengan penghinaan, atau dengan pukulan.”

Firdaus sempat meninggalkan dunia pelacuran dan hidup sebagai wanita terhormat. Bekerja sebagai pegawai kantoran dengan gaji yg kecil. Sayangnya keangkuhan para lelaki telah membuatnya kecewa dan menggiringnya kembali ke dunia pelacuran. Dunia dimana Firdaus merasa lebih dihormati dan dihargai. Dunia yg mempertemukannya dengan seorang germo yg akan menjadi akhir dari kisah hidupnya.

Tidak salah kalau buku ini masuk ke dalam jajaran “1001 Books You Must reads Before You Die.” Kata-kata dalam buku ini sangat lugas dan pedas, tanpa tedeng aling-aling menelanjangi kebobrokan yg terjadi di negara yg masih menganut paham patriarki. Seorang perempuan di negara Arab bukanlah putri yg dipuja-puja, melainkan hanya warga kelas dua, kuli rendahan yg bisa diperlakukan seenaknya oleh kaum pria dan dibuang jika sudah tidak sayang.

Kalau ingin jujur, tidak hanya di negara Arab ketidakadilan terhadap perempuan ini terjadi. Coba tengok di negara kita sendiri, masih banyak lelaki yg ongkang-ongkang kaki sementara istrinya membanting tulang dari pagi hingga petang untuk menghidupi keluarganya. Para perempuan harus rela menjadi TKW, di negri orang mereka disiksa, dipukuli, dianiaya fisik dan mental sementara para suami malahan kawin lagi.

Buku tipis ini memuat narasi yg panjang namun tidak membosankan. Ukuran fontnya yg kecil dan sedikit rapat agak menyusahkan. Tapi baris demi baris kalimatnya sangatlah memikat. Buku ini membangkitkan semangat feminisme, semangat untuk memberontak terhadap ketidak adilan gender yg masih terus saja terjadi. Semangat untuk menuntut persamaan hak dengan para lelaki.

Sungguh sebuah buku yg layak untuk dibaca oleh siapapun juga.

Advertisements